NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Fiat money VS Dinar dirham

/ On : Senin, Mei 10, 2010/
Sejak jaman dahulu kala, emas merupakan barang yang sangat berharga. Nilainya tidak pernah turun dan cenderung stabil terhadap barang/aset. Bahkan emas dianggap sebagai lambang kemegahan, kekuasaan, dan kewibawaan sebagai seorang raja/ pemimpin. Itulah sebabnya sejak jaman Nabi Sulaiman as hingga sekarang, emas tetap diburu dan disenangi banyak orang.
Gambaran di atas bertolak belakang dengan realitas mata uang kertas (fiat money). Penerimaan masyarakat terhadap mata uang kertas sebenarnya bukanlah karena senang menerima keberadaannya, melainkan karena paksaan dan doktrin menyesatkan dari kebijakan pemerintah. Masyarakat jika menyadari makna uang kertas yang sebenarnya, pasti akan membuang uang kertas tersebut di tong sampah bak seperti kotoran yang tidak ada harganya.
Para pecinta emas (goldbugs) sangat menyakini akan kejatuhan dollar Amerika di masa mendatang. Bahkan tinggal menghitung jam saja alias tidak lama lagi. Kalau nilai dollar jatuh, mata uang kebangggan Amerika ini akan menjadi lembaran kertas tidak berharga. Di titik itulah emas akan semakin membumbung tinggi harganya. Bahkan ketika potensi imbalan (return) berinvestasi dalam saham atau obligasi tidak lagi menarik dan dianggap tidak mampu mengkompensasi resiko yang ada, maka investor akan mengalihkan dananya ke dalam aset riil, seperti logam mulia atau properti yang dianggap lebih layak dan aman (secure).
Hal ini sesuai pernyataan Alan Greenspan (mantan Chairman the Fed), “Emas masih menjadi bentuk utama pembayaran di dunia. Dalam kondisi ekstrem, tidak ada yang mau menerima uang fiat. Tapi emas selalu diterima”. Hal senada juga diungkapkan Jerome F. Smith, dia mengatakan “Semakin sedikit orang yang percaya pada kertas sebagai media penyimpanan nilai, maka harga emas akan terus melonjak”.
Secara tegas, kerapuhan uang kertas serta kuatnya emas (Dinar) sebagai mata uang diungkapkan oleh John Naisbitt, yang di dunia barat dianggap sebagai ‘dewa’ nya ekonomi modern. Dia menyimpulkan bahwa monopoli terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh umat manusia adalah monopoli uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. Masyarakat tidak akan lagi mempercayai mata uang kertas dan pindah ke yang dia sebut mata uang privat (benda-benda riil yang memiliki nilai instrinsik).
Peter Bernstein seorang pakar keuangan terkemuka dunia, pernah mengatakan secara terbuka bahwa, “Gold is the ultimate certainly and escape from risk”. Ketika semua mata uang kertas berjatuhan, emas akan menunjukkan kesaktiannya. Ketika fiat money satu per satu berjatuhan, emas (dinar) menunjukkan nilai yang stabil dan cenderung menguat terhadap mata uang kertas. Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Jerome F Smith “As fewer and fewer people have confidence in paper as store of value, the price of gold will continue to rise”.

Sumber: www.jurnal ekonomi ideologis

0 komentar:

Posting Komentar

be nice, keep it clean my friend

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku