NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Jiwa-Jiwa Penggerak Revolusi Islam

/ On : Senin, Mei 03, 2010/
Bagaimana aku bisa menjadi aku yang sekarang ini?’

‘Aku percaya pada persamaan hak’

‘Dan aku bersedia mati’

‘Untuk memegang senjata, dan menarik pelatuknya untuk yang aku yakini’

(Ernesto Guevara, Tokoh Sosialis Komunis, dokter muda dari Argentina. Pejuang Ideologi Sosialis-Komunis Negara Kuba).

Ada sebuah pelajaran menarik dari seorang tokoh Komunis yang memiliki Visi, melakukan Revolusi di Negara Kuba. Dokter muda yang lahir di Argentina yang saat itu ditawan oleh resim Batista, karena berontak dan berusaha menggulingkan kekuasaannya. Pernyataan itu ia katakan saat berada di dalam penjara yang pengap dan jauh dari cahaya. Akan tetapi ia melihat dari situlah awal mula Revolusi bergulir.

Ini adalah sepenggal cuplikan dari film ‘CHE, A REVOLUTIONARY LIFE’ garapan Steven Soderbergh. Saya bukan bermaksud untuk mengajari kawan-kawan mengikuti perjuangan yang ia lakukan, dan bukan pula saya pengagum CHE. Akan tetapi, saya bermaksud untuk menggambarkan bagaimana sosok pejuang Ideologi Sosialis itu. Petikan percakapan yang diperankan oleh ‘Benicio Del Toro’ itu memperlihatkan bagaimana pemikiran yang mengkristal di dalam pribadi Ernesto Guevara.

Lihatlah kawan, bagaimana ia begitu yakin dengan apa yang ia perjuangkan. Hingga ia bersedia meregang nyawa sekalipun demi terwujudnya cita-cita besarnya. Ia sangat membenci Amerika seperti halnya kawan-kawan. Ia berjuang dengan segenap tenaga dan peluru yang ia pegang dengan tanpa meninggalkannya walaupun sebentar saja, yaitu senjata. Revolusi Merah, begitu julukan bagi Revolusi Sosialis, memperkenalkan padanya, ‘Hari ini engkau akan ditembak, atau engkau mengangkat senjata dan melawan!’ ‘Senjata adalah membunuh atau dibunuh.’

Perjuangan untuk melakukan Revolusi yang nantinya berakhir dengan kemenangan, membutuhkan para pelaku. Ia mengatakan, ‘Revolusi ini akan aku kobarkan. Akulah yang akan memimpinnya.’ Lantas ia melanjutkan perkataannya dan berharap kepada kawan-kawan yang lainnya,

‘Jangan berhenti lakukan Revolusi karena aku..’

‘Revolusi dibuat oleh satu orang dan satu lagi lalu satu lagi..’

Kawan, begitu ia sangat yakin jika kawan-kawan yang lain akan mendukung dan berkorban bersama dengannya. Revolusi dimulai oleh satu orang dan diikuti oleh satu dari yang lain dan terus memperbanyak diri. Demikian yang dilakukan oleh tokoh Komunis yang dikenal dengan nama Che Guevara. Yang hobi memakai topi berlambangkan bintang, dengan baju ala militer dan berjambang lebat.

Komandan Guevara, begitu prajurit menyebutnya. Komandan yang disukai karena kebijakan dan pemikirannya. Sangat membenci perbudakan. Gerilya menjadi jalan perjuangannya.

‘Menurutmu, kemana arah perjuangan ini?’ prajurit bertanya.

‘Kemenangan!’ Komandan menjawab.

‘Setelah itu?’ bertanya lagi.

‘Tak akan mudah.’ Jelasnya.

Ia katakan kepada prajuritnya, ini adalah sistem keadilan oleh rakyat dan untuk rakyat, tidak boleh mengambil barang milik rakyat. Kita harus melindunginya. Kita teruskan pertempuran ini tanpa mengorbankan harta rakyat, kita tak boleh mengambil harta mereka. Ia mengakhiri perbincangan itu dengan kalimat, ‘Aku akan diragukan sebagai pelaku Revolusi, jika aku meninggalkan tugas Revolusiku.’

2 Januari 1959 Jendral Batista melarikan diri dan para pemberontak mengambil alih.

Che Guevara berhasil merealisasikan Visinya, Revolusi Negara Kuba.

Sahabat sekalian para pejuang syari’ah yang istiqomah dalam dakwah.

Jika tokoh Sosialis saja demikian gigihnya memperjuangkan ideologinya,

bagaimana dengan Anda pejuang Ideologi Islam—yang tak diragukan lagi kebenarannya.

Bukankah Che Guevara manusia, kita juga manusia..?

Bukankah Umar bin Khaththab manusia, kita juga manusia...?

Bukankah Muhammad Al-Fatih manusia, kita juga manusia...?

Jikalau mereka makan, kita pun makan. Jika mereka punya tangan, kita pun punya tangan. Kaki mereka dua, kita juga dua. Mereka bisa tertawa, kita juga bisa tertawa. Mereka bisa marah, kita juga bisa marah. Mereka punya otak, kita juga punya..

Jika mereka mampu mengubah dunia...., mengapa kita tidak?

Jika mereka mampu menggoncang dunia, mengapa kita tidak?

Lantas, apa yang membedakan kita dengan mereka? Jawabannya adalah: Kristalisasi Ideologi dan memaksimalkan potensi. Ideologi telah mengkristal dalam otak mereka, menyatu dalam darah yang mengalir deras dalam tubuhnya. Mereka telah menggunakan potensi yang dimilikinya, kita belum! Barangkali baru 1 % dari potensi yang kita miliki—yang benar-benar telah kita gunakan. Einstein baru menggunakan 10% dari otaknya.

Ingatlah Jiwa-Jiwa Penggerak Revolusi Islam, cukuplah apa yang dikatakan oleh Allah SAW dalam firmanNya:

“‘Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan kamu mencegah dari yang munkar, dan kamu beriman kepada Allah”

(TQS. Ali Imran: 110)

(Oleh Prio Agung Wicaksono, Mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta dan aktivis Dakwah Kampus DIY)

sumber: facebook.com

0 komentar:

Posting Komentar

be nice, keep it clean my friend

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku