NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Mengugat Politik Pendidikan Ala Kapitalisme

/ On : Jumat, Juni 21, 2013/

Politik adalah pengaturan urusan umat baik dalamnegeri maupun luar negeri. Mengenai  dalam Negeri, aktivitas Poltik yang utamadilakukan secara praktis oleh Negara dengan menerapkan Mabda (Ideologi) yang dianutnya.[1]

Hari ini, terdapat sebuah Ideologi yang eksis,dan menjadi asas bagi pengaturan yang dilakukan oleh banyak Negara di belahan dunia, yakni Ideologi Kapitalisme. Aqidah yang mendasari tegaknya Ideologi tersebut adalah Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Dalam Sekularisme, Agama dianggap belenggu yang akan mengerangkeng manusia dalam upayanya mewujudkan kebahagiaan, sehingga tak boleh dijadikan pijakan dalam menjalani kehidupan kecuali hanya terbatas dalam tataran privat.

Adapun Negara, sebagai institusi Politik, menurut Aqidah Sekularisme, idealnya ditegakkan dengan tujuan untuk menjaga dan menjamin rakyat dalam memperoleh jaminan atas berbagai kebebasan yang menjadi haknya. Kebebasan tersebut antara lain: kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan pribadi (bertingkah laku) dan kebebasan kepemilikan.[2]
Namun pada praktiknya, kebebasan yang dijanjikan pada seluruh penghuni Negara mengalami proses penyempitan. Hak mendapatkan kebebasan itu akhirnya justru dimonopoli oleh segelintir orang yang bernama Kapitalis (Pemilik Modal). Dengan kekuatan modalnya, Para Kapitalis dapat menjadikan Negara sebagai pijakan untuk memuluskan apa yang diinginkannya seraya menafikan kebebasan warga lain. 

Negara yang menganut Ideologi Kapitalisme, pada akhirnya memaksa Para Poilitisi yang terlibat aktivitas Politik hanya mewakili kepentingan Para Kapitalis yang hanya segelintir saja. Ini pula yang kemudian menjadi alasan mengapa Ideologi ini tak dinamakan Sekularisme, akan tetapi Kapitalisme.

Pendidikan dalam Kuasa Ideologi Kapitalisme

“Jika anda bertanya apa manfaat Pendidikan, maka jawabannya sederhana: Pendidikan membuat orang menjadi baikdan orang baik tentu berprilaku mulia” (Plato, Filsuf Yunani Kuno)

Rasanya tak ada yang menyangkal pernyataan Plato tersebut, bahwa memang tujuan dari diadakannya aktivitas Pendidikan tak lain untuk mewujudkan manusia yang sebenarnya, yang memiliki kepribadian baik dan mulia. 

Namun sayang, ada satu kelemahan mendasar para Filosof seperti Plato. Yakni seringkali memberikan konsep yang sangat ideal, namun terlalu general. Sehingga memunculkan potensi bias tafsir. Demikian halnya dengan Plato, ia dan apa yang diungkapkannya telah meninggalkan jejak kebingungan ditengah umat manusia yang mencari cari tafsir pasti dari frasa ‘orang baik’ dan ‘berprilaku mulia’. 

Hanya satu hal yang pasti, tafsir tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada Ideologi yang dijadikan pijakan bagi Negara dalam mengelola Pendidikan bagi manusia yang tinggal dalam naungannya. Manusia-manusia dapat dipaksa untuk menerima konsep orang baik dan berprilaku mulia yang diinginkan Negara tempatnya hidup. Hal ini juga ditegaskan oleh Michael Folcault,yang menyatakan bahwa keberadaan Pendidikan tak bisa dilepaskan dari kepentingan penguasa. Terdapat hubungan antara pendidikan dan kekuasaan.[3]
Kapitalisme, sebagai sebuah Ideologi yang kini menjadi asas bagi aktivitas Politik Negara di Dunia, termasuk Indonesia, tentu punya pola tersendiri dalam memanfaatkan pendidikan sebagai medium untuk memuluskan tujuan Ideologisnya. 

Lantas bagaimana cara Kapitalisme membangun sistemPendidikannya di Indonesia? Apakah Kapitalisme berhasil mengarahkan manusia-manusia Indonesia menjadi orang baik dan berprilaku mulia? Hasil apa saja yang didapatkan oleh Negeri ini karena pilihannya tunduk pada Ideologi Kapitalisme? Adakah Negeri ini mendapatkan kebaikan? Atau sebaliknya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, kiranya bisa diklihat dari tiga aktivitas politik besar yang menjadi manifestasi Politik Pendidikan Kapitalisme di Indonesia. diantaranya:

1.    Membangun Pendidikan Sekuler

Sebagaimana sudah diuraikan sebelumnya, Aqidah yang dianut oleh Ideologi Kapitalisme adalah Sekularisme (PemisahanAgama dari kehidupan).  

Meminjam pernyataan Adian Husaini, Sekularisme adalah bentuk lain dari konsep ‘Menuhankan manusia, dan memanusiakan Tuhan’. Manusia sebagai makhluk yang lemah, diposisikan seperti Tuhan yang memiliki hak untuk mengatur urusan kehidupan secara komprehensif. Sebaliknya, Tuhan yang hakikatnya Dzat sempurna, ditiadakan perannya, disingkirkan, seolah lemah dan tak punya daya untuk berkuasa dan mengatur manusia.

Sekularisme mengerdilkan peran Agama hingga ajarannya hanya boleh diamalkan dalam tataran individual belaka; dalam aspek ritual atau keyakinan pribadi saja. Adapun dalam aspek lain, semisal berekonomi, berpolitik, bersosial, maka Agama diharamkan untuk turut campur mengatur urusan manusia.

Pola Pendidikan Sekularisme di Indonesia sendiri nampak dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15. Dimana terdapat dikotomi antara Pendidikan Agama dengan Pendidikan lainnya, yang berbunyi: “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus”[4]
Dalam tataran yang lebih praktis, Sekularisme tercermin dari indikator dan materi yang disiapkan dalam proses pembelajaran Agama yang dibuat Pemerintah, dimana arahnya hanya terbatas agar pelajar memahami agama sebagai simbol dan ritual belaka. Bukan sebagai standar berfikir dan bersikap dalam mengarungi medan kehidupan yang luas. Tak hanya itu, alokasi waktu mata pelajaran Agama-pun sangat sedikit, hanya berkisar dua jam pelajaran per minggu.

Padahal, menurut Taqiyuddin An-Nabhani, Penanaman Ideologi Sekularisme dalam kehidupan, atau menjauhkan manusia dari aturan agama, adalah sebuah wujud penentangan manusia terhadap fitrahnya. Hal demikian akan menjadi sumbu bagi munculnya beragam pertentangan dan perbedaan yang mengacaukan kehidupan manusia. Itu karena hakikatnya manusia tak akan pernah mampu mengatur hidupnya sendiri.[5]
Dalam konteks lain, Ketika Sekularisme menafikan Agama sebagai standar dalam berfikir dan bersikap, maka hakikatnya, Sekularisme sedang mengajarkan kebebasan bagi manusia untuk menentukan standar (maqayis) sendiri, tentang benar-salah, baik-buruk serta terpuji-tercela. Dengan katalain, Sekularisme telah memberikan jalan bagi lahirnya Relativisme. 

Akibatnya, manusia yang dididik dengan Ideologi ini sangat potensial menjadi manusia brutal dan yang sulit diatur. Maka jangan heran bila penggunaan Narkoba, Aborsi, Seks Bebas, Tawuran atau geng motor menjadi potret buram yang dihasilkan oleh manusia yang terdidik dengan Ideologi ini. Media massa, cetak maupun elektronik tak henti memberikan fakta tentang dampak dari hal ini.

Terkait hal tersebut, Alija Izetbegovic, mantanPresiden Bosnia menguatkan tentang bahaya melepaskan Agama dari kehidupan manusia. Menurutnya, Moralitas sebagai sebuah prinsip tak mungkin dapat terwujud kecuali dengan agama. Dengan kata lain, membangun moralitas dalam ruang hidup sekularisme adalah sebuah utopia belaka.[6]
Memang benar, disisi lain, Pendidikan dengan pola sekualrisme telah menghasilkan percepatan munculnya beragam produk IPTEK yang sangat canggih, Namun dunia tak bisa menutup mata, bahwa IPTEK yang digunakan oleh penganut Sekulerisme, lebih banyak menimbulkan mafsadat ketimbang maslahat. Begitu juga kepintaran yang dimiliki sebagian penganutnya, alih alih membawa kebaikan, mereka justru membawa kerusakan.

2.    Menciptakan Liberalisasi Pendidikan

Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 berbunyi,”Setiapwarga Negara berhak mendapat pendidikan”.[7] Tak ada yang keliru dari isi UUD tersebut, namun sayang, UUD 1945 hanyalah sekumpulan konsep yang tak memiliki seperangkat metode yang khas sebagai tuntunan untuk mewujudkannya secara praktis. Akibatnya, ia menjadi konsep bias yang metode pelaksanaannya dapat dipelintir oleh Ideologi tertentu yang menjadi ‘ruh’ Negara. Dan dalam konteks hari ini, Kapitalisme adalah Ideologi yang dimaksud.

Adapun dalam menerapkan Ideologinya, Kapitalisme hanya menjadikan Negara sebagai sarana untuk menjamin terciptanya kebebasan ditengah kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya. Satu diantara kebebasan tersebut adalah kebebasan kepemilikan.

Konsep kebebasan kepemilikan, salah satu manifestasinya adalah Liberalisasi, yang terwujud dalam bentuk pelemparan beragam tanggung jawab Negara kepada pasar . Negara melakukan aktivitas Liberalisasi dalam berbagai aspek, termasuk diantaranya Pendidikan. Dalam konteksPendidikan, Negara terus berupaya melepaskan kewajibannya untuk menanggung biaya Pendidikan yang dibutuhkan rakyatnya. 

Maka bila ada yang menafsirkan maksud dari UUD 1945 pasal 31 ayat 1 adalah semua aktivitas Pendidikan setiap rakyat dijamin tanpa perlu membayar biaya sepeser pun, maka tafsirannya keliru besar. Karena jelas, hal tersebut bertolak belakang dengan visi Liberalisasi yang menjadi manifestasi Ideologi Kapitalisme.

Liberalisasi di Negeri ini, tercermin nyata pasca reformasi berlangsung. Pemerintah melakukan proses Desentralisasi atau Otonomi Pendidikan yang membuat tanggung jawabnya dalam mengelola Pendidikan semakin sedikit. Pemerintah malah melepaskan beragam tanggung jawabnya dalam menetapkan berbagai hal yang menyangkut jalannya Pendidikan kepada tiap satuan Pendidikan di masing masing daerah, termasuk dalam mencari dananya sendiri. [8]
Dengan demikian, Pendidikan akhirnya berperan juga sebagai Pasar. Para Kapitalis bermain di Dunia Pendidikan mencari proyek sana sini, melakukan persaingan dalam rangka mengeruk keuntungan dari Liberalisasi yang telah memuluskan simbiosis antara Kapitalis dan Satuan Pendidikan. Ekses paling terasa dari hal ini, Lembaga Pendidikan mematok biaya mahal bagi setiap rakyat yang ingin sekolah. Karena mereka membutuhkan uang rakyat sebagai alat transaksi dengan Para Kapitalis.

Kondisi menjadi sangat pelik, ketika fakta menunjukan, masih banyak rakyat Indonesia yang hidup miskin. Merujuk standar kemiskinan Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2013 mencapai 97,9 juta jiwa. Atau setara dengan 40 persen penduduk.[9]

Akhirnya banyak diantara Mereka yang miskin urung melanjutkan sekolah, sambil menggerutu “Ternyata Sekolah hanya untuk orang kaya”. Merujuk pada Data BKKBN, Pada Tahun 2009 saja terdapat 13.685.324 anak usia antara 7-15 Tahun yang putus Sekolah[10]. Kondisi tersebut kemudian mengiringi semakin banyaknya jumlah anak jalanan dan gelandangan, serta perbudakan anak, kebodohan, dan banyak lagi.

Untuk menambal dampak Liberalisasi yang buruk tersebut, Pemerintah menunjukan bentuk tanggung jawab lain yang dinamakan Subsidi. Setiap tahun, Pemerintah memberikan subsidi besarannya dialokasikan 20% dari jumlah APBN[11]Jumlah tersebut direcah dalam program Beasiswa, BOS dan Gratis Belajar SembilanTahun, dan yang lainnya.

Namun itu semua tentu kurang dan tak mampu menyentuh semua lapisan rakyat. Subsidi seolah hanya menjadi upaya setengah hati yang mengaburkan fakta Liberalisasi yang dilakukan PemerintahNegeri ini.

3.    Membangun Pendidikan Berbasis Industri

Dalam Negara yang menjadikan Kapitalisme sebagai pijakkannya, adalah hal yang niscaya bila setiap kebijakan senantiasa mengacu kepada kepentingan Para Kapitalis. Dan diantara kebutuhan Para Kapitalis dalam melebarkan kekuatan modalnya, adalah Sumber Daya Manusia.

Dalam konteks tersebut,  Pendidikan, sebagai sarana pembentukan corak SDM, adalah ruang strategis untuk dimanfaatkan keberadaannya. Setidaknya, bila berpijak dari asas manfaat yang menjadi standar berfikir Para Kapitalis, ada dua hal strategis yang bisa dimanfaatkannya dalam Dunia Pendidikan Indonesia. Pertama; Menciptakan SDM dengan kualitas keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dua: SDM yang siap ‘bekerjasama’ dalam menekan biaya produksi .

Sebagai salah satu wujud praktisnya, akhirnya para Kapitalis mendorong Negara untuk memprioritaskan mendorong perbanyakan jumlah Sekolah Kejuruan. Sekolah  model ini secara khusus dibangun untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh Para Kapitalis atau bahasa halusnya ‘Dunia Kerja’. Lulusan SMK dipuja sebagai penguat iklim investasi yang memajukan ekonomi Negara.

Pada Tahun 2009, Pemerintah melalui mendiknasnya, Bambang Sudibyo pernah menargetkan bahwa padaTahun 2014, rasio antara jumlah SMK dan SMA mesti 2:1. Artinya di tiap daerah,bila terdapat 1 SMA, maka harus terdapat 2 SMK[12]Bila merujuk pada fakta hari ini, kiranya target tersebut berhasil.

Dalam tataran indvidu, sesungguhnya memang tak ada salahnya individu memiliki skill kerja yang mumpuni, demikian juga memiliki kesiapan mendapatkan upah murah. Karena dalam  Islam pun, memiliki keahlian tertentu adalah Fardhu kifayah, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi Fardhu ‘ain. Selain itu, Miskin dan Kaya dipandang sama saja, yang membedakan adalah taraf ketakwaan

Namun masalah muncul bila hal tersebut dipandang dalam skala makro. Politik Pendidikan yang memprioritaskan pembangunan Sekolah Kejuruan, tentu pada akhirnya akan membuat SDM Negeri ini mayoritasnya adalah pribadi yang hanya siap jadi pekerja yang mengabdi pada Para Kapitalis. Padahal disisi lain, mekanisme Pasar bebas yang dijalankan oleh Negara Kapitalis meniscayakan proses makan-memakan antar perusahaan yang berujung pada pengurangan jumlah pabrik yang simultan. [13]

Pada akhirnya, jumlah perusahaan milik Para Kapitalis yang semakin sedikit itu tentu membuat lulusan siap kerja yang menggunung tak tertampung. Lantas, bagaimana nasib mereka? Sebagiannya mungkin melanjutkan untuk kuliah, sebagian lagi bekerja lintas keahlian. Dan sambil menjalani kehidupan barunya, sebuah pertanyaan terngiang ngiang dalam kepala mereka, “Lantas apa gunanya keahlian yang aku pelajari selama tiga tahun itu, bila akhirnya aku menjadi seperti hari ini?”

Namun yang lebih banyak lagi, lulusan yang tak tertampung itu menjadi Pengangguran. Kalaupun tak jadi pengangguran, lulusan SMK dapat menyisihkan lulusan SMA, dan melabeli mereka dengan cap pengangguran. Faktanya, jumlah pengangguran memang tinggi. Menurut Muhaimin Iskandar, PadaTahun 2012 saja, terdapat sekitar 7 juta pengangguran di Indonesia[14].Pengangguran ini tentu potensial untuk beranak-pinak melahirkan beragam masalah lainnya. Seperti pencurian, perampokan dan tindak kriminalitas lainnya.

Ikhtisar

Demikianlah Ideologi Kapitalisme dengan visi Politiknya telah terbukti gagal dalam menyuguhkan harmonisasi dalam dunia Pendidikan. Kapitalisme gagal membentuk rakyatnya menjadi manusia paripurna yang pantas untuk dikatakan baik dan berpilaku mulia. Sebaliknya Kapitalisme justru menghasilkan pribadi pribadi brutal yang kering akan nuansa spiritual, moral, apalagi sosial.

Tak hanya itu, untuk mendapatkan kualitas Pendidikan dengan kualitas yang buruk tersebut, Rakyat masih dipaksa membayar dengan biaya yang mahal dan sulit dijangkau. Ditambah lagi, biaya yang mahal tersebut tak memberikan kepastian yang cerah bagi masa depan mereka yang membayarnya. Baik masa depannya di Dunia, maupun di Akhirat.

Nyata sudah, Politik Pendidikan ala Kapitalisme benar benar telah nyata menjadi api yang mungepulkan asap masalah dan membuat  sesak dada khalayak. Potret tersebut semestinya sudah cukup menjadi salah satu  alasan kuat bagi penduduk Negeri ini untuk bergerak bersama penduduk di belahan Dunia, membawa satu visi; Menumbangkan Ideologi Kapitalisme, serta mewujudkan Perubahan besar Dunia menuju Khilafah. Wallohualam.[Farhan A.Muttaqi]** 

[1] An,Nabhani, Taqiyuddin.(2006). Konsepsi Politik HizbutTahrir (ter. Mafahim Siyasiyah). Jakarta: HTI Press. Hal: 7
[2] An-Nabhani, Taqiyuddin. (2001) Peraturan Hidup dalamIslam (terj. Nizhamul Islam), Jakarta: HTI Press. Hal: 50
[3] Yamin, Moh. (2009). Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara. Jogjakarta: Arruz Media. Hal: 53
[5] An-Nabhani, Taqiyuddin. (2001). Peraturan Hidup dalam Islam (Terj. Nizhamul Islam), Jakarta: HTI Press. Hal: 69
[6] Izetbegovic, Alija. (1992). Membangun Jalan Tengah(Ter.Islam Between East and West)). Bandung: Mizan. Hal.153
[7] Yamin, Moh. (2009). Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara. Jogjakarta: Arruz Media. Hal: 122
[8] Ibid. 124
[11] Ibid.123
[13] Triono, Dwi Condro, 2012, Ekonomi Islam Mazhab Hamfara.  Yogyakarta: Irtikaz.Hal:196

0 komentar:

Posting Komentar

be nice, keep it clean my friend

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku