NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa Barisan Terdepan dalam Perjuangan Syairah dan Khilafah

Oleh:

Setiawan Hidayat

(Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia)

28 Oktober 2011

Melihat fakta yang ada saat ini begitu memprihatinkan dan mengecewakan. Betapa tidak! Di tengah kondisi yang carut-marut dan jauh dari kesejahteraan, pemerintah kita hanya banyak bicara dan tidak pernah memberikan tindakan yang nyata. Lemahnya kekuatan pemerintah karena secara terus-menerus di tekan oleh pihak asing mungkin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tunduknya negeri ini kepada para kapitalis asing dan domestik yang saling bekerjasama.

Sebagai contoh takluknya negara pada kapitalis asing adalah kasus Freeport yang tidak kunjung selesai. Pemerintah menginginkan menaikkan royalti agar sesuai dengan PP No. 45/2003, yaitu royalti emas 3,75%, tembaga 4%, dan tembaga 3,25%. Karena royalti yang diterima negara saat ini adalah emas 1%, perak 1,25%, dan tembaga 1,5% sampai 3,5%. Sungguh ironi betapa kecilnya negara ini mendapatkan bagian, padahal tambang emas itu milik rakyat Indonesia. Namun, kenyataannya akibat perjanjian yang salah melalui kontrak karya yang sudah puluhan tahun SDA tersebut menjadi milik para pemodal asing.

Tercatat dari tahun 2005 sampai September 2010 total penjualan Freeport sebesar US$ 28.816 juta atau jika dikonversi kerupiah menjadi Rp. 259,34 triliun. Laba kotornya dari pejualan tersebut adalah US$ 16.607 juta atau setara dengan 150,033 triliun. Coba kita bandingkan dengan royalti yang dibayarkan kepada Indonesia yang hanya sebesar US$ 732 juta atau Rp. 6,588 triliun.

Sangat mengejutkan melihat data tersebut, tapi kita tidak perlu begitu terkejut karena memang bukan hanya Freeport yang telah memprivatisasi SDA yang ada di Indonesia. Masih ada Exxon Mobile, Chevron, New Mount, dan yang lainnya. Sehingga bukan hanya emas yang digondol tapi lebih dari 90% kekayaan negeri ini hilang ditelan Sistem Kapitalisme.

Karena ideologi ini pula SDA yang tersedia tidak bisa dimiliki secara penuh oleh Indonesia. Hal ini menunjukkan secara telak bahwa negeri ini telah takluk ditangan para kapitalis. Jangan harap kesejahteraan akan kita dapatkan selama para kapitalis itu masih menginjakkan kaki di negeri ini dan selama ideologi rakus Kapitalisme diterapkan di negeri ini.

Satu lagi bukti rusaknya sistem yang diterapkan di negeri ini dan bejadnya pemerintah negeri ini adalah di bidang hukum dan peradilan. Seorang nenek bernama Saodah (54 tahun) yang buta huruf, di penjara selama 2 bulan di LP Labusona Sumut gara-gara diduga mencuri 2 biji kelapa sawit senilai Rp. 2000,-. Sungguh biadab UU negeri ini yang merupakan produk sistem kapitalisme, dimana para pencuri kecil -yang baru diduga saja- dijatuhi hukuman secara langsung, sedangkan para pencuri kelas berat seperti koruptor dibiarkan begitu saja bebas berlenggang menjelajah negeri. Padahal mereka sudah jelas mencuri uang rakyat yang jumlahnya tentu sangat besar, jauh bila dibandingkan dengan dua biji kelapa sawit. Parahnya lagi, korupsi di negeri ini bukan di basmi tapi dipelihara oleh negara melalui UU.

Itu merupakan beberapa fakta yang ada dan masih banyak lagi fakta-fakta lainnya yang menunjukkan bobroknya negeri ini akibat penerapan sistem jahiliyah. Sehingga kerusakan yang ditimbulkan bukanlah satu aspek melainkan seluruh aspek baik politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.

Anehnya orang-orang Pancasilais tidak pernah berteriak ketika ketidak adilan ditegakkan dan ketika SDA dirampok oleh para kapitalis. Mereka bungkam dan tidak hadir dalam membela kepentigan rakyat. Patut dipertanyakan kepada negeri Pancasila ini kemanakah Timor Timur? Kenapa dibiarkan berlepas diri dari negeri ini, padahal secara tegas dinyatakan dalam sila ke tiga Persatuan Indonesia, dimanakah integritas itu? Apakah ketika Timor Timur lepas orang-orang Pancasilais beriteriak menahannya? Kemudian ketika rakyat diperlakukan tidak adil oleh penguasa rakus para Pancasilais itu tidak juga bersua.

Seharusnya jika mereka Pancasilais sejati, mereka dengan gagah berani berhadapan dengan para penguasa kejam dan bule-bule perampok SDA serta menggugat sistem yang ada saat ini. Tapi kenyataannya tidaklah demikian.

Nah, inilah salah bukti bahwa orang-orang yang mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat ternyata hanya pura-pura dan tidak totalitas atau tidak tahu dan sadar bahwa rakyat telah dizalimi atau mungkin juga pura-pura tidak tahu. Sangatlah wajar bila kita menanyakan jargon-jargonnya seperti NKRI harga mati dan sudah final, apakah perampokan kekayaan alam oleh Freeport juga sudah final sehingga kepemilikan tambang emas tersebut tidak boleh diambil alih oleh rakyat melalui negara? Apakah rakyat yang merasakan ketidak adilan juga sudah final sehingga tidak boleh disejahterakan melalui perjuangan? Atau apakah rakyat Papua yang dalam keterbelakangan dibiarkan saja dan tidak boleh diangkat derjatnya sebagai manusia? Apakah situasi Indonesia yang sudah rusak di semua aspek ini juga sudah final? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Sementara itu, ada orang-orang bagian dari negeri ini yang mengajukan solusi dan sedang memperjuangkan kepentingan rakyat malah diteriaki dan dicap tidak Pancasilais. Mereka itulah yang benar-benar memperjuangkan kepentingan umat bukan hanya untuk rakyat Indonesia saja tapi untuk seluruh dunia melalui tegaknya Syariah Islam hukum Sang Pencipta pemilik alam semesta, manusia, dan kehidupan yang tidak akan diragukan lagi keauntetikannya dan pasti menjadi rahmat bagi seluruh alam karena Sistem Islam telah membuktikannya selam 1400 tahun memimpin dunia dan telah menyejahterakan manusia di bumi ini.

Maka kita sebagai mahasiswa sudah selayaknya menjadi bagian dalam perjuangan ini dan beridiri di barisan terdepan.

Inilah sumpah mahasiswa Indonesia yang tidak banyak orang tahu karena tidak pernah dipubilkasikan. Ketika itu semua mahasiswa seluruh Indonesia berkumpul di Senayan pada tanggal 18 Oktober 2009 yang berjumlah lebih dari 5000 orang dan menyerukan satu solusi untuk Indonesia lebih baik dan negeri-negeri muslim lainnya yakni dengan Syairah dan Khilafah.

SUMPAH MAHASISWA

Setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah menjadi sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya Syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.

5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Sumber referensi:

Al Islam edisi 14 Oktober 2011

Media umat edisi 21 Oktober – 3 November 2011

http://dakwahkampus.com

Sehelai Kain Mengguncang Peradaban Barat

Semangat anti Islam terus di kumandangkan oleh Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin khususnya Eropa. Setidaknya kita bisa melihat dari upaya-upaya untuk berusaha melarang penggunaan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam seperti Pelarangan Jilbab disekolah-sekolah, Kampanye anti menara Masjid. Sampai pelarangan Niqab.

Parlemen Dewan Perwakilan Perancis akhirnya menyetujui kebijakan pelarangan jilbab Islam seperti burqa pada Selasa (13/07) sebuah gerakan yang sangat terkenal di antara para pemilih Perancis meskipun terdapat kekhawatiran yang serius dari kelompok Muslim dan pendukung hak-hak asasi manusia.

Terdapat 336 pemilih untuk rancangan undang-undang tersebut dan hanya satu yang menentangnya di dalam Majelis Nasional. Sebagian besar anggota dari kelompok oposisi utama, Partai Sosialis, menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan tersebut – walaupun mereka mendukung pelarangan tersebut, mereka memilki banyak perbedaan dengan presiden dari Partai Konservatif Nicolas Sarkozy atas beberapa aspek dari rancangan undang-undang tersebut. (www.suaramedia.com 14/07/2010)

Denmark juga ikut melarang pemakaian burka dan niqab. Perdana Menteri Denmark, Lars Loekke Rasmussen, mengatakan busana perempuan muslim yang menutup hampir seluruh tubuh, kecuali mata, tidak punya tempat dalam masyarakat Denmark. Rasmussen mengatakan, pemerintahannya
yang berhaluan tengah-kanan sedang mencari cara untuk membatasi pemakaian burka dan niqab tanpa melanggar konstitusi negara Skandinavia tersebut seperti di kutip laman The Herald Sun, Rabu 20 Januari 2010.

Larangan Burqa dan niqab makin meluas di Eropa. Setelah Prancis, Denmark dan Belanda, Belgia juga akan menerapkan kebijakan yang sama. Komite Dalam Negeri di Parlemen Belgia sudah melakukan voting untuk menerapkan larangan cadar di tempat-tempat umum di seluruh wilayah negara itu.

Pertanyaannya kenapa Eropa begitu murka dengan penggunaan busana Muslimah? Bukankah mereka menganut prinsip-prinsip kebebasan yang memberikan ruang kepada individu untuk mengatur mengenai hal-hal yang sifatnya privasi? Padahal jumlah populasi Muslimah yang menggunakan Niqab dan Burqa sangatlah kecil sehingga sangat tidak relevan dan proporsional ketika lembaga eksekutif maupun legislatif begitu gelisah dengan hal tersebut.

Bahkan menurut sebuah laporan dari University of Copenhagen mengenai jumlah pemakai burka di Denmark dipublikasikan. Jumlah perempuan pemakai burka disebutkan sangat jarang. Sedangkan perempuan muslim pemakai niqab ada sekitar 100 hingga 200 orang. Demikian halnya Prancis merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di Eropa. Di sini terdapat sekitar 5 juta muslim di antara 64 juta penduduk Prancis. Tapi dari berbagai penelitian, jumlah wanita pemakai burqa/niqab hanya 1900 orang. Di Belgia menurut data pemerintah , jumlah perempuan yang mengenakan cadar antara 300 dan 400 perempuan, sementara jumlah Muslim secara keseluruhan diperkirakan mencapai 281 ribu orang muslim, atau di atas 3 persen dari populasi Belgia.

Sesungguhnya apa yang terjadi di Barat adalah terlalu lugu kalau hanya sekedar memaknai sebagai pelarangan Jilbab, pelarangan Menara Masjid dan pelarangan Burqa (niqab), namun sesungguhnya adalah bentuk pengejewantahan dari perang antar peradaban (clash of civilization) yang jauh sebelumnya telah di prediksikan oleh Samuel Huntington ahli Futuristik Amerika Serikat dalam bukunya The Clash Of Civilization yang dengan tegas mengatakan bahwa musuh sesungguhnya Kapitalisme di masa yang akan datang adalah revivalisme Islam.

Barat mulai menyadari tentang revivalis Islam sehingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Tindakan-tindakan nyata yang dilakukan Eropa dan warganya merupakan bentuk dari ketakutan terhadap Islam. Sebagai Contoh masalah itu bisa kita lihat dalam kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan berjilbab asal Mesir di pengadilan Jerman. Marwah Al-Sherbini mengadu ke pengadilan Dresden menjadi korban aksi kekerasan berbau rasis seorang lelaki Jerman. Tragisnya, perempuan berjilbab itu justru dibunuh dengan 18 kali tusukan pisau saat sidang pengadilan tengah berlangsung. Ironisnya lagi, pemerintah dan kalangan media massa Jerman justru berupaya menutup-nutupi peristiwa mengenaskan tersebut. Syahid Jilbab asal Mesir itu terbunuh saat ia hamil sementara suaminya yang berupaya menyelamatkan sang istri justru menjadi sasaran tembakan polisi.

Untuk itulah kaum Muslimin harus menyadari tentang adegan-adegan yang sedang dilakonkan dan dipertontontakan oleh Barat, bahwa sesungguhnya mereka sedang menabu genderang perang terhadap Islam dan Kaum Muslimin, maka kita pun harus menyambutnya dengan membangun kekuatan dan persatuan dalam Insitusi Negara khilafah. Hanya dengan Khilafah sebagai sebuah institusi Adidaya umat Islam yang mampu meladeni tantangan tersebut, sekaligus menghancurkan Insitusi peradaban barat. Dengan keberadan Khalifah ditengah-tengah Umat yang akan membela dan menjaga kehormatan kaum Muslimin. Sejarah telah mencatat ketika seorang wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh tentara Romawi, kemudian wanita Muslimah tersebut berteriak memanggil wahai Al Mu’Tasim dimanakah engkau? Panggilan tersebut akhirnya sampai ke telingah Khalifah Al Mu’tasim Billah seketika itu juga meresponnya dengan mengirimkan pasukan dan beliau sendiri yang memimpinnya untuk membela kehormatan wanita Muslimah tersebut dimana kepala pasukan sudah sampai di kota Amuria sedangkan ekornya masih di Bagdaq, dan akhirnya berhasil membunuh 30.000 Pasukan Romawi serta kota Amuria berhasil ditaklukkan. Allahu Akbar.

Selamatkan Anak dari Jerat Pornografi dan Seks Bebas

Syabab.Com - Anak adalah permata hati bagi orang tua dan keluarga. Anak juga merupakan mutiara-mutiara bangsa yang menjadi tumpuan dan harapan bagi kemajuan peradaban dan kemuliaan sebuah bangsa. Jika anak memiliki kepribadian yang baik, masa depan bangsa tersebut juga akan baik. Namun, jika mutiara-mutiara bangsa itu mengalami kehancuran, disorientasi hidup, dan kebobrokan moral, akan hancurlah sebuah bangsa. Lalu bagaimana dengan potret anak-anak kita saat ini?

Realitas Dunia Anak

Data-data terkait fakta dan perilaku anak-anak Indonesia saat ini begitu mengerikan. Berikut di antaranya:

Badan pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Jawa Barat melakukan survey di enam kabupaten di Jawa Barat tahun 2009 diperoleh hasil: 29 % remaja pernah melakukan seks pranikah. Artinya jika jumlah remaja Jawa Barat 11 juta maka 3 jutanya pernah melakukan seks bebas. Lalu berdasarkan laporan Komnas Anak pada tahun 2007, jumlah remaja yang sudah tidak perawan tercatat 62,7 %. Menurut Sekretaris BPPKB Jabar, Suryadi, salah satu penyebab seks bebas di kalangan remaja adalah beredarnya media-media pornografi yang mudah diakses remaja.

Komnas Anak juga melansir, 97% anak Indonesia pernah nonton pornografi, 97% anak SD pernah mengakses pornografi (2009) dan 30% dari 2-2,6 juta kasus aborsi dilakukan remaja usia 15-24 tahun (2009). Berdasarkan data Depkominfo pada tahun 2007, ada 25 juta pengakses internet di Indonesia. Konsumen terbesar 90 persen adalah anak usia 8-16 tahun, 30 persen pelaku sekaligus korban pornografi adalah anak.

Dua dari lima korban kekerasan seks usia 15-17 tahun disebabkan internet, 76 persen korban eksploitasi seksual karena internet berusia 13-17 tahun. Itu baru penelitian terkait dengan pornografi melalui internet belum lagi melalui media yang lain. Akibatnya suburlah praktik aborsi. Pada 2008, Voice of Human Rigths melansir aborsi di Indonesia menembus angka 2,5 juta kasus, 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja dibawah usia 20 tahun (majalah Al-Wai’e No.112 Tahun X, 1-31 Desember 2009).

Sementara itu, hasil Survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang dirilis awal Mei 2010, sebanyak 97 persen siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas pernah menonton atau mengakses situs pornografi. Dampak mengakses situs porno, kata Tifatul, sebanyak 92,7 persen responden siswa menengah mengakui pernah melakukan aktivitas mengarah seksual berupa ciuman, bercumbu dan seks oral. Sebanyak 62 persen dari 4.500 responden tersebut mengaku pernah melakukan hubungan badan dan sisanya 21,2 persen yang merupakan siswi SMA pernah melakukan pengguguran kandungan.

Yang paling menyentak adalah dampak negatif dari beredarnya video cabul yang diperankan para artis. Kasus yang seharusnya cukup menjadi alarm untuk sesegera mungkin menyelamatkan bangsa dari ancaman bahaya kerusakan, malah menginspirasi sebagian kalangan untuk bertindak serupa atau ‘minimal’ menikmatinya.

Di beberapa tempat, kasus ini bahkan menjadi pemicu terjadinya berbagai kriminalitas, termasuk pemerkosaan yang dilakukan anak-anak muda belia. Terbukti, selama 10-23 Juni 2010 telah jatuh korban pemerkosaan sebanyak 30 orang yang dilakukan anak usia 16-18 tahun, sementara korbannya berusia 12-14 tahun. Para pelaku mengaku mereka memperkosa setelah menonton video artis tersebut. Tidak mengherankan, karena dalam kasus video ini dari 30 anak yang ditanya, 24 anak menyatakan sudah menonton video tersebut.

Melalui berbagai wacana, masyarakat pun dipaksa percaya bahwa kasus semacam ini merupakan hal biasa, dimana hukum tak mungkin bisa menyentuhnya. Berbagai debat kusir dilakukan menyusul desakan sebagian masyarakat yang resah dan prihatin atas fenomena yang terjadi untuk menyeret pelaku zina dan semua yang terlibat di dalamnya ke hadapan hukum.

Di pihak lain, ada pula sekelompok masyarakat yang terang-terangan mendukung pelaku zina dan menuntut ‘pemutihan’ atas perbuatan amoral yang mereka lakukan. Mereka berdalih, semua manusia pernah melakukan dosa, dan urusan dosa adalah urusan individu dengan Tuhannya. Negara atau siapapun tak berhak menghukumnya.

Akar Masalah

Seks bebas, pornografi dan pornoaksi yang merajalela di negeri ini merupakan konsekuensi logis diterapkannya sistem demokrasi. Demokrasi tidak menjadikan agama sebagai sumber hukum. Agama diakui sebagai pegangan individu yang hanya mengurusi wilayah privat manusia. Adapun dalam urusan publik, agama tidak boleh dibawa-bawa. Pengaturan urusan publik diserahkan pada kendali manusia. Manusia secara penuh berhak membuat dan menetapkan aturan. Mengapa? Karena sistem demokrasi lahir dari pemikiran manusia sebagai ’win-win solution’ atas persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Adapun liberalisme yang menjadi pilar demokrasi telah menjadikan pengaturan urusan manusia mestilah menjamin kebebasan manusia. Akibatnya kebijakan politik yang dikeluarkan tidak boleh melanggar kebebasan ini. Wajar jika ditemukan kebijakan-kebijakan yang masih bersifat permisif .

Pornografi dan seks bebas adalah gambaran kebebasan perilaku yang pasti diberi ruang dalam sistem demokrasi yang berpilar pada kebebasan itu. Dalam pandangan liberal, naluri seksual pada manusia – saat menuntut pemenuhan – harus dipenuhi dengan segera, Karena kalau tidak dipenuhi akan mendatangkan bahaya.

Tidak peduli dengan siapa ia melakukannya. Apakah terikat dengan aturan pernikahan ataukah tidak, itu tidak penting dalam pandangan mereka. Sebab yang penting adalah tertunaikannya gejolak naluri seks tersebut. Tentunya, inilah yang menyebabkan derajat manusia satu tingkat dengan binatang, bahkan bisa lebih rendah dibawahnya. Mirip perilaku hewan jantan yang menunaikan ’hajat’ seksnya dengan betina manapun, kapanpun dan dimanapun.

Pandangan ini tentunya mewarnai kebijakan publik terkait pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan. Karena itu kita lihat maraknya tempat prostitusi yang dilokalisasi, sehingga perzinahan menjadi resmi. Patut diketahui bahwa sistem demokrasi erat kaitannya dengan kapitalisme. Karena salah satu kebebasan yang menjadi pilar demokrasi disamping kebebasan berperilaku, juga kebebasan kepemilikan.

Siapapun boleh menjarah kekayaan yang lain, siapapun boleh memiliki harta dengan cara apa saja. Sementara itu dalam urusan pemenuhan naluri seks ada peluang untuk mengkomersilkannya, sehingga urusan seks pun bisa dikomoditisasi. Karena itu wajar bila isu seksual ini dijadikan industri yang prospektif untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

Karenanya tak heran kita jumpai produksi film, sinetron, buku, majalah, tabloid, kalender hingga pernak-pernik untuk peringatan valentine days, lagu-lagu bertema cinta - yang semuanya notabene menjadi pencetus munculnya naluri seks – menjadi hal yang legal dan marak. Ini semua menjadi sah-sah saja dalam kehidupan masyarakat yang sekular-liberal-kapital yang menjadi ciri demokrasi.

Anak-anak menjadi korban. Mereka disuguhi tontonan yang menggugah naluri seksnya dan merusak moral mereka, dan sistem liberal ini siap menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang lebih dalam lagi. Celakanya, ketika terjadi kemaksiatan, tak ada satupun hukum yang mampu menjeratnya. Jika mampu, maka sanksi yang tidak membuat para pelaku jera. sehingga wajar jika kemaksiatan tak dapat dibendung kemunculannya.

Inilah sekilas gambaran tentang betapa sistem yang selama ini diagung-agungkan mengandung banyak kelemahan bahkan cacat yang bersifat bawaan. Akibatnya aturan cabang yang dilahirkan pun memiliki kelemahan dan kesalahan hingga tidak mampu menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang muncul.

Islam Selamatkan Anak

Berbeda dengan liberalisme, Islam memiliki aturan yang sempurna dalam melindungi anak-anak dari racun-racun pornografi, pornoaksi dan seks bebas yang berdampak buruk bagi eksistensi mereka. Islam melindungi anak-anak, bahkan moral orang dewasa dengan melarang individu-individu mengumbar masalah seks di ranah publik.

Untuk membentengi anak dari menyeruaknya pornografi, selain menguatkan keimanan maka anak diberikan pendidikan seks dari sumber yang benar. Di dalam ajaran Islam terdapat aturan pendidikan seks, tetapi pelaksanaan pendidikan seks tersebut tidak menyimpang dari tuntutan syariat Islam. Jadi, pendidikan seks dapat diberikan kepada anak, manakala berisi pengajaran-pengajaran yang mampu mendidik anak, sehingga anak lebih mengimani, mencitai, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan pendidikan yang diberikan tidak akan membuat anak-anak mengalami krisis moral dengan melakukan aksi pornoaksi seperti yang terjadi pada aturan liberal di atas, karena konten yang diberikan juga sangat berbeda.

Diantara pokok-pokok pendidikan seks yang bersifat praktis, yang perlu diterapkan dan diajarkan kepada anak antara lain:

Pertama, menanamkan rasa malu pada anak. Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak walau masih kecil bertelanjang di depan orang lain. Membiasakan anak sejak kecil berbusana muslimah menutup aurat juga penting untuk menanamkan rasa malu, sekaligus mengajarkan pada anak tentang aurat.

Kedua, menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang kelak akan diperankannya.

Mengingat perbedaan tersebut, maka Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, harus dibiasakan dari kecil anak-anak berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Dan perlakukan mereka sesuai dengan jenis kelaminnya juga.

Dari Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita, dan wanita yang berlagak meniru laki-laki." Dalam riwayat yang lain: “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki”. (HR. Bukhari).

Ketiga, memisahkan tempat tidur. Usia antara 7 hingga 10 tahun merupakan usia dimana anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berfikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Bila pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orang tuanya, maka setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya (attachment behavior) dengan orang tuanya. Bila pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang beda jenis kelamin, maka secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

Keempat, mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu). Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta ijin terlebih dahulu adalah, sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Aturan ini ditetapkan mengingat diantara ketiga waktu tersebut merupakan waktu aurat. Yakni waktu dimana badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka. Bila pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak, maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan santun dan etika yang luhur. Sehingga dengan penerapan aturan ini, maka anak juga terjaga dari melihat hal atau aktivitas orang dewasa yang tidak layak dilihat.

Kelima, mendidik menjaga kebersihan alat kelamin. Mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajarkan pada anak tentang najis. Juga harus dibiasakan anak untuk buang air pada tempatnya (toilet training).

Keenam, mengenalkan mahramnya. Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan, telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Siapa saja mahram tersebut, Allah SWT telah menjelaskan dalam Surat An-Nisa’:22-23.

Ketujuh, mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Begitu pula dengan mata yang dibiarkan melihat gambar-gambar atau film yang mengandung unsur pornografi. Jauhkan anak-anak dari gambar, film, bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

Kedelapan, mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilat. Ikhtilat adalah bercampur baurnya antara laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa keperluan yang keperluan yang dibolehkan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Mereka bebas mengumbar pandangan, saling berdekatan dan bersentuhan. Seolah tidak ada lagi batas yang ditentukan syara’ guna mengatur interaksi diantara mereka. Dilarang ikhtilat, karena interaksi semacam ini bisa sebagai perantara kepada perbuatan zina yang diharamkan Islam. Bila ikhtilat dibiarkan, maka pintu-pintu kemaksiatanpun akan terbuka lebar. Dan akan membawa dampak kepada kerusakan kehidupan manusia. Jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.

Kesembilan, mendidik anak agar tidak melakukan khalwat. Dinamakan khalwat apabila seorang laki-laki dan wanita bukan mahramnya, berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Dan biasanya memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sebagaimana ikhtilat, khalwatpun merupakan perantara bagi terjadinya perbuatan zina. Anak-anak sejak kecil harus diajarkan untuk menghindari perbuatan semacam ini. Bila bermain, bermainlah dengan sesama jenis. Bila dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak berkhalwat.

Kesepuluh, mendidik etika berhias. Berhias, jika tidak diatur secara Islami akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan dosa. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias agar berhias tidak untuk perbuatan maksyiyat.

Kesebelas, mangajarkan tentang ihtilam, haid serta konsekuensinya. Ihtilam adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia baligh. Sedang haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilam dan haid tidak hanya sekedar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata. Apabila terjadi ihtilam dan haid Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut. Antara lain misalnya kewajiban untuk melakukan mandi wajib. Dan yang paling penting, ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi muslim dan muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggungjawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

Inilah sebagian kecil hukum Islam yang bersumber dari Pencipta manusia (Allah SWT) yang jelas benar dan sempurnanya. Jika aturan tersebut diterapkan, maka akan menciptakan kesucian diri , kedamaian, kebahagiaan hidup hakiki bagi semua termasuk anak-anak.

Khatimah

Untuk menyelamatkan anak-anak bangsa ini dari jerat pornografi dan seks bebas diperlukan upaya yang serius dari berbagai pihak. Karena. masalah anak, yang salah satunya adalah kerusakan moral bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Bukan juga sebatas masalah keluarga yang mesti diselesaikan hanya oleh keluarga. Masalah anak merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan seluruh elemen baik keluarga, masyarakat bahkan Negara. Oleh karena itu, bagi setiap keluarga Muslim, harus memperkokoh perannya yang nyata-nyata memikul amanah mulia dalam menghantarkan anak-anaknya menjadi generasi yang handal. Yaitu anak-anak yang mampu menolak setiap racun yang membahayakannya. Begitu pula masyarakat, budaya amar ma’ruf nahyi munkar harus terus diperkuat agar bahaya apapun yang mengancam anggota masyarakat yang lain tidak menjadi ancaman yang berarti. Tentu saja upaya ini tidak akan sia-sia jika dilengkapi dengan adanya pergerakan politik dari masyarakat yang menuntut negara untuk menerapkan sistem yang menjamin keberlangsungan generasi yaitu sistem Islam

Selanjutnya, negara sebagai institusi yang memiliki kekuatan paling besar, harus menerapkan Islam dalam seluruh aspeknya, termasuk sistem pergaulan dan sanksi. Hingga anak-anaki Muslim terjaga dari kerusakan moral. Sudah saatnya Negara melindungi masyarakat dari virus-virus yang merusak moral dengan mengenyahkan sistem demokrasi liberal yang telah nyata-nyata rusak dan merusak untuk kemudian diganti dengan sistem yang terbukti mampu membawa umat manusia pada ketentraman dan kemuliaan yaitu Sistem Islam dalam wujud Khilafah Islamiyyah. Wallahu A’lam.

oleh: Eko Pujiastuti, SP.

Merdeka yang Sesungguhnya

Negara kita belum merdeka, Bung!

Negara yang merdeka adalah negara yang benar-benar berdikari mampu menangani segala persoalan dalam dan luar negeri dan rakyatnya merasa aman dan tenteram. Terus gue mau nanya neh ke elo semua Bro, tapi jawab yang jujur ya? Apakah elo semua ngerasa aman ketika negara lain turut campur dalam kepentingan negara ini mulai dari soal ketahanan negara, ekonomi, dan masalah-masalah lainnya?

Contohnya nih aset-aset negara yang penting seperti tambang emas dan minyak pun dikuasai oleh orang asing inilah yang membuat rakyat Indonesia masih banyak yang sengsara kalo menurut istilah yang diajarkan oleh guru gue waktu SD tuh seperti tikus yang mati di lumbung padi. Nah begitulah keadaan negara ini. Padahal kalo dalam Islam Rasulullah saw. bersabda, ”Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api. Harga (menjual-belikannya) adalah haram” (HR Abu Dawud)

Jadi air (laut, sungai, danau, dll), padang rumput (hutan), dan api (bahan bakar minyak, batu bara, gas, listrik, dan sumber energi lainnya) merupakan milik bersama. Karenanya, termasuk dalam pemilikan umum dan ridak boleh dikuasai secara pribadi, atau bahasa kerennya tidak boleh “diprivatisasi” sampai tambang garam pun pernah diambil kembali lho oleh Rasulullah karena menyangkut kepentingan umat

Pokoknya sekarang ini nggak ada deh kepentingan yang berpihak pada rakyat semuanya dikapitalisasi bahkan sampe tenaga buruh pun dengan adanya outsourcing bisa dijadikan penghasilan atau pemerasan. Misalnya dengan adanya outsourcing otomatis para pemilik perusahaan bisa lepas tanggung jawab dari para buruh. Ah, udah mah jadi buruh, dipotong gajinya sama outsourcing (apalagi kalo dipotongnya 50 sampe 75 persen ya) hehehe bisa bangkrut tuh buruh diperes terus, ditelantarkan pula kalo udah tua tanpa dapet uang pesangon. Wah lengkap sudah deh penderitaan rakyat padahal kan katanya ekonomi kerakyatan tapi kok berpihaknya ke kapitalisme. Jadi ada yang salah tuh dengan sistem yang kita anut. Iya kan?

Untuk hal ekonomi malah bank-bank di Indonesia pun masih menggunakan sistem riba yaitu sebuah transaksi yang dicirikan dengan suatu pernyataan ’Beri saya hutang dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya). Padahal selain sistem riba itu dilarang oleh Islam, sistem ini juga nggak kenal belas kasihan. Ya iyalah namanya orang yang berhutang itu kan adalah orang kesusahan bukannya ditolong dengan ikhlas malah dimakan juga. Ca’ur banget kan? Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Ali Imran [3]: 130)

Juga dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman (yang artiya): “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS al-Baqarah [2]: 275-281)

Nah, serem kan?

Dalam sistem pendidikan pun Islam telah mengaturnya karena untuk mewujudkan SDM yang baik dibutuhkan pendidikan yang baik juga bahkan khalifah umar bin khatab pun pernah memberikan gaji kepada guru TK sebesar 15 dinar emas (1 dinar emas setara dengan 4,25 gram emas). Nah, elo itung sendiri dah berapa duit tuh?

Oya, karena begitu pentingnya pendidikan maka pendidikan pun digratiskan nggak ada anak yang putus sekolah karena kesulitan biaya atau kalau misalkan pendidikan benar-benar terpenuhi maka nggak mungkin kan negara ini menjadi negara yang mempunyai SDM dengan peringkat di bawah 100.

Itulah ruginya jika kita tidak melaksanakan Islam secara keseluruhan. Saat ini, yang terjadi adalah berlomba-lomba mencari kekayaan dengan jalan apapun nggak peduli keadaan orang sekitar. Nama kerennya sih hedonisme. Elo bisa bayangin kan kalo misalkan semua orang pada begini otomatis deh generasi kita dan generasi seterusnya akan menjadi lebih bobrok.

Udah keliatan kan contohnya sekarang-sekarang ini karena kurangnya pendidikan agama banyak tuh pemuda-pemudi yang makin kacau aja kehidupannya. Mereksa terjerumus dalam free sex, ngedugem, narkoba, doyan miras, tindak kriminal seperti tawuran, dan budaya-budaya negatif dari luar pun lebih mudah untuk masuk dan menjadi bagian dari kehidupan anak muda sekarang ini. Contohnya makin banyak para pemudi yang menanggalkan jilbab dan kerudungnya dengan alasan udah nggak jaman atau ngikutin tren para aktris Hollywood gitu lah, tapi tetep aja makannya masih tempe. Hahaha.. mungkin cuma tempe aja yang asli Indonesia dan masih bisa bertahan.

Terus nih, yang bikin gue geleng-geleng kepala anehnya ada juga sesuatu yang dilabeli Islam tapi amat jauh dari nilai-nilai keislaman seperti penayangan “film religi” tapi masih ada juga adegan yang nggak banget deh seperti berpegangan tangan dan lain-lain. Katanya film religi tapi kok gitu yah? Ah, namanya juga sekadar label kok!

Ini bukti yang kentara banget, bahwa kita belum merdeka. Karena masih dijajah oleh budaya dari luar. Sebab, hakikat kemerdekaan itu, adalah terbebasnya dari penghambaan terhadap hawa nafsu. Terbebasnya dari ikatan dengan aturan selain Islam. Kita hanya menyerahkan diri kepada Allah Swt. saja. Bukan kepada yang lain. Maka sistem hukum yang wajib diikutin adalah sistem Islam. Bukan sistem yang lain seperti demokrasi, kapitalisme, nasionalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, termasuk turunannya sekularisme yakni permisifisme, hedonisme dan sejenisnya (lha, banyak banget ya?)

Solusinya neh!

Nah solusi dari kekacauan ini adalah dengan menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ingat nih Bbro en Sis. Islam itu bukan sekadar agama ritual saja. Islam tuh adalah agama yang paling lengkap. Semua peraturan untuk kemaslahatan manusia ada semua di situ dan udah tercantum dalam satu kitab yang bernama al-Quran. Al-Quran adalah kalamullah, yakni ucapan Allah Swt yang telah menciptakan manusia dan otomatis Dialah yang paling mengerti akan kebutuhan manusia. Catet ya!

Maka, sebagai generasi muda elo jangan malu untuk mengkaji Islam dan jadilah insan yang bertakwa. Jadi kalo suatu saat ada yang bilang syariat Islam tidak pas untuk diterapkan di negara ini elo nggak langsung percaya gitu aja. Emangnya siapa sih yang paling mengerti manusia dia atau Allah Swt.?

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Quran, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimatNya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’am [6]: 114-115)

Dijamin deh kalo negara ini bener-bener mengikuti aturan dari Allah pasti elo semua (dan kita semua) nggak akan ngerasain penjajahan dalam bentuk apapun. Kalo sekarang? Hmm.. secara fisik di negeri ini nggak ada penjajahan. Tapi secara ekonomi, politik, budaya, pendidikan, hukum, sosial kita masih terjajah oleh aturan selain Islam. So, kalo pengen merdeka, campakkan sistem selain Islam dan nggak usah dijadikan aturan hidup kita lagi. Ya, cuma Islam yang bisa menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadikan Islam sebagai jalan hidup kita semua, dalam aktivitas individu, bermasyarakat dan bernegara. Itu semua bakalan bikin kita makin yakin dan bangga deh dengan keislaman kita, sehingga berani teriak lantang: MERDEKA!

Idaman Para Pria Pengemban Dakwah

New Picture (17)
Cinta adalah fitrah pada manusia. Ketika cinta itu bersemi, maka dunia akan menjadi begitu indah. Ada yang bilang ”dunia serasa milik berdua, sedang yang lain cuma ngontrak”. Cinta yang suci akan membuat ia semakin dekat dengan Allah, karena memang cinta seperti ini dilandasi atas dasar cinta karena Allah. Sebaliknya cinta yang tidak suci akan semakin menjauhkan ia dengan Rabbnya.

Seorang pria tentunya mendambakan seorang wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya. Yang menaatinya, mampu mengurusi urusan rumah tangga, mendidik anak, sebagai manager rumah tangga dan lain-lain.Wanita shalihah yang akan berusaha selalu tampil mempesona ketika dihadapannya. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hatimu bila engkau pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta memelihara kehormatan diri-nya ketika engkau tidak ada di rumah.”( Ibnu Jarir dan al-Baihaqi)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh wanita, setelah hak Allah dan Rasul-Nya, yang lebih wajib daripada hak suami” (Majmu’ Fatawa. 32/260). Ketaatan istri ini adalah dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya.


Bagi para pengemban dakwah, mereka ingin seorang pendamping yang juga siap men-support suaminya dalam melakukan tugas dakwah. Yang siap menghadapi resiko apapun ketika menghadapi tantangan-tantangan dakwah, yang tidak terlalu banyak menuntut, pandai bersyukur dan penuh kesabaran. Disamping itu ia juga tidak melupakan tugas dakwahnya. Istri yang akan menjadi pakaian dalam hidupnya.

Istri yang siap mengikhlaskan suaminya jika hendak pergi berjihad, bahkan kalau diperlukan ia juga ikut turut serta dalam medan Jihad. Sebagaimana para sahabiyah dahulu. Bukhari telah memberitakan dari Anas ra. dia berkata: “Pada hari peperangan Uhud ramai orang Islam yang terkocar-kacir dan terpisah dari Nabi SAW Dan aku lihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummi Sulaim tergesa-gesa membawa kantung Qirbah (terbuat dari kulit kambing) yang berisi air, memberi minum orang-orang yang dahaga dalam pertempuran itu. Sesudah habis mereka pergi lagi mengisi air dan memberi minum kepada tentara Islam yang berperang itu.” (Baihaqi 9:30).

Ibnu Abbas pernah mengatakan pasangan hidup yang sholeh (Al-azwaju shalihah) merupakan salah satu dari 7 indikator kebahagiaan dunia. Sungguh, istri yang shalihah adalah idaman bagi para pria, karena memiliki istri yang shalihah lebih baik dari dunia beserta isinya. “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah”. (HR. Muslim, Ibnu Majah).

Bagi para pria termasuk saya, berusahalah untuk menjadi pria yang shalih, sehingga pantas mendapatkan istri yang shalihah. Yang siap menunaikan kewajibannya sebagai suami, sebagai imam yang tangguh dan terpercaya.

Pemuda Bangkitlah! Islam Merindukanmu!

oleh: candra purna irawan

Pemuda Islam adalah pemuda harapan
Yang dengan tangannya lahir sebuah kejayaan
Menapak kehidupan dengan cahaya iman
Bergerak ke depan raih kebangkitan islam

Kita adalah singa-singa Ar-rohman
Hancur binasa musuh berbisa
Kita pejuang pembela kebenaran
Lepas belenggu runtuhkan angkara murka

Semangatmu bagai api menyala
Tergugahlah jiwa tuk turut berjuang
Pandangan matamu tebarkan cahaya
Hapus angan-angan raih kemenangan..raih kemenangan

Bangkitlah hai pemuda Islam
Kau tunas harapan penuh penantian
Wujudkanlah cita dan impian
dengan kekuatan kita kan berjaya

Bergerak ke depan raih kemenangan..
raih kemenangan..raih kemenangan!

- Ar Ruhul Jadid-


Pemuda memegang peranan penting dalam hampir setiap perjuangan meraih cita-cita. Dalam sejarah da’wah Islam, pemuda memegang peranan yang sangat penting. Para Nabi dan Rosul diutus Allah untuk menyampaikan ajaran agama terpilih dari kalangan pemuda yang rata-rata berusia sekitar empat puluh tahunan. Dalam alQuran terdapat banyak kisah keberanian pemuda. Rosulullah Muhammad Saw ketika diangkat menjadi rosul berumur empat puluh tahun. Pengikut beliau yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda bahkan ada yang masih anak-anak. Mereka dibina oleh rosulullah setiap hari di Daarul Arqam. Diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, yang paling muda ketika itu keduanya berumur 8 tahun, Thalhah bin Ubaidillah (11), al Arqam bin Abi al Arqam (12), Abdullah bin Mas’ud (14) yang kelak menjadi salah satu ahli tafsir terkemuka, Saad bin Abi Waqqash (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Jafar bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khatab (26), Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabbah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shidiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin al Harits, yang paling tua diantara semua sahabat yang berusia 50 tahun.

Pemuda gagah berani yang hidupnya didedikasikan hanya untuk kejayaan Islam seperti inilah yang sanggup memikul beban da’wah dan bersedia berkorban serta menghadapi berbagai siksaan dengan penuh kesabaran. Mereka mendapatkan kebaikan, rahmat dan ampunan dari Allah. Mereka inilah yang disebut dengan orang muflih (beruntung).

Umat Islam saat ini masih dililit sejumlah permasalahan krusiall yang bisa menggiring umat menjadi pecundang sejati di era global. Di antaranya masalah kemiskinan. Kalau kita sejajarkan negiri-negiri Islam dari Maroko hingga Indonesia, umumnya masih dibelit kemiskinan yang bersifat struktural dan kultural sekaligus.

Apalagi kalau kita tukikan pandangan ke negara-negara Afrika dan Asia Selatan, maka angka kemiskinan makin membuncah. Sebutlah negara-negara seperti Nigeria, Sudan, Ethiopia, Senegal, Chad, atau Pantai Gading yang mayoritas Muslim, ternyata masih dibelit kemiskinan akut. Kematian akibat kekuragan gizi alias kelaparan masih menjadi pamandangan biasa di benua hitam. Begitu pula di Asia Selatan. Gejala serupa juga melanda Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Umat Islam juga masih dibelit korupsi. Di antara problem krusial yang menyebabkan keterbelakangan umat Islam adalah korupsi. Korupsi memang gejala mondial, seiring dengan perkembangan kapitalisme yang merusak, tetapi korupsi di negiri-negiri Muslim betul-betul telah bersifat destruktif. Ironisnya, terjadi pula resistensi atas gerakan antikorupsi.

Problem lainnya berkaitan dengan sektor pendidikan dan kesehatan yang masih parah. Secara umum negiri-negiri Muslim tergolong sedang berkembang. Secara geografis, umumnya terletak di Afrika dan Asia. Tingkat pendidikan masih memprihatinkan. Masih banyak yang buta huruf. Angka partisipasi di dalam pendidikan masih rendah. Sulit bagi mereka bicara tantangan global, ketika sebagian besar mereka masih sibuk dengan urusan perut.

Di bidang kesehatan, negiri-negiri Muslim juga masih dibelit berbagai macam penyakit menular. Sementara pemerintahnya yang memiliki anggaran terbatas tidak berdaya. Apalagi sebagiannya hilang di meja-meja birokrasi. Jadi penyebab lainnya, ketidakmampuan menangani atau mengelola sektor kesehatan. Manajemen korup menyebabkan anggaran yang dialokasikan bagi peningkatan kesejahteraan warga menjadi hilang begitu saja.

Konflik yang berkepanjangan di negiri-negiri Muslim juga problem tersendiri. Secara umum, ini merupakan global paradox, sebagaimana dikatakan John Naisbit dan Patricia Aburden (1990), namun intensitas konflik di negiri-negiri Muslim sangat tidak masuk akal. Sering konflik itu terjadi antara umat Islam sendiri. Kondisi paling memperihatinkan tentu gejala terorisme. berbagai konflik yang terjadi di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Islam lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal ketimbang internal di antara umat Muslim di negara-negara tersebut.

Terkait dengan faktor eksternal tersebut, ulama terkemuka Suriah sekaligus pemikir Islam yang buku-bukunya menjadi bacaan wajib di berbagai negara, Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili, menegaskan, selama 14 abad negara-negara Arab hidup dalam damai. ”Sejak Amerika Serikat datang dan menanamkan pengaruhnya, justru terjadi perpecahan di negara-negara Arab,”

Bila kejayaan Islam masa lalu muncul karena da’wah Islam yang banyak ditopang oleh para pemuda Islam yang memiliki sikap perjuangan yang gigih, sanggup menyisihkan waktunya siang malam demi perjuangan Islam, maka demikian juga dengan masa depan Islam. Sunnatullah tidak berubah. Siapa yang unggul maka dialah yang memimpin. Umat Islam di masa lalu terutama para pemudanya unggul karena mereka memeluk Islam secara kaffah, lurus aqidahnya dan taat pada syariat.

Untuk membangkitkan umat, diperlukan pemuda-pemuda yang mau bergerak secara ikhlas dan sungguh-sungguh untuk meraih kembali kejayaan Islam. Pemuda yang dibutuhkan adalah para pemuda Islam sekualitas para sahabat yang memiliki tauhid yang lurus, keberanian menegakkan kebenaran serta memiliki ketaatan pada Islam. Dengan dorongan peran pemuda inilah maka perjuangan penegakan kembali aturan Allah di muka bumi ini akan berlangsung dengan giat sehingga Islam kembali tegak..

Yakinlah pada diri kita bahwa kita mampu menjadi pribadi-pribadi muslim yang tangguh dan berpengaruh seperti Ali bin Abi Thalib, Imam Syafi’I dll. Insya Allah dengan izin Allah kita akan bisa menjadi seperti mereka asal kita mau serta diiringi dengan usaha yang sungguh-sungguh.

Pemuda memiliki potensi yang sangat besar dalam melakukan proses perubahan. Pemuda adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. Ummat Islam saat ini sedang menantikan siapa yang akan mengembalikan bangunannya kembali, mengeluarkan mereka dari kejahiliahan, dan menyelesaikan problem-problem keumatan. Bukan hanya ulama, umara, politisi atau pengusaha yang mampu mengatasi problematika umat, tapi juga pemuda memiliki peran yang lebih penting. Dengan segala potensi yang dimilikinya, pemudalah yang diharapkan mampu menyelesaikan problematika umat.

Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran yang ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya. Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat.

Ssehingga kita menyadari bahwa masa depan islam terletak diatas pundak para pemudanya. Merekalah yang memegang kendali bahtera islam. Kemanapun mereka mau, maka kesanalah bahtera itu melaju. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kebangkitan islam di masa mendatang dimenifestasikan oleh pemuda, dengan syarat mereka mempunyai kesadaran dan kecintaan penuh pada agamanya. Jika prasyarat ini gagal ditanamkan pada jiwa mereka, niscaya tragedi kebangkitan islam tidak akan pernah berkumandang di dunia ini, akibatnya sekularisme seperti di Turki akan terulang-ulang lagi di negeri-negeri Islam. Maka, lahirlah Ataturk-Ataturk baru yang mengagumi Barat beserta aturannya.

Gurita Paul, Piala Dunia, dan Judi

Oleh: Umar Abdullah

Seekor gurita bernama Paul, yang ikut meramal di Piala Dunia 2010 | www.kompas.com

Jerman kalah 1-0 lawan Spanyol! Wow, ini membenarkan ramalan Gurita Paul. Mungkin itu pikiran kita begitu mendengar berita kekalahan Tim Panser Jerman di Piala Dunia. Gurita ini memang hebat. Selama Piala Dunia Afsel ini pilihannya selalu tepat. Setidaknya minimal 5 kali tebakan gurita ini benar. Tapi apakah berarti ia bisa meramal? Dan ramalannya tepat? Tentu saja TIDAK. Semua hanya kebetulan saja. Buktinya di kompetisi lainnya, tebakannya pernah keliru, minimal dua kali keliru.

Ada juga yang bilang ”mungkin gurita itu dituntun oleh jin sehingga ramalannya tepat”. Jawabannya juga TIDAK. Karena jin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi gurita itu memilih dan kebetulan pilihannya tepat.

Saya dulu pecandu sepak bola, fans berat Persebaya. Tahu betul bagaimana sepak bola menjadi arena judi massal, taruhan siapa yang menang, berapa skornya. Apalagi jika musim Piala Dunia datang. Hampir setiap malam tidak tidur, menikmati sensasi ketegangan nonton bola. Dan bagi penjudi, menunggu taruhannya menang atau hilang. Biasanya penjudi mendasarkan pilihannya berdasarkan analisa pengamat sepak bola di tv, analisa dirinya sendiri, mimpi berikut primbonnya, dukun, anak kecil, dan orang gila. Mengingat itu saya sering ketawa sendiri, tolol banget ya para penjudi itu. Dan sekarang sangat mungkin, Gurita Paul jadi selebriti baru sekaligus narasumber penting seantero dunia untuk meramal siapa yang menang: Spanyol atau Belanda. Manusia menjadi lebih bodoh dibanding gurita. Mundur 14 abad ke belakang saat ramalan mendominasi dan mengarahkan hidup manusia.

Tapi ada yang lebih parah lagi. Yaitu rencana segelintir orang yang mengusulkan legalisasi judi. Permadi (dukun dan dewan pembina partainya Muchdi PR ”Gerindra”), Piliang (Pengurus Golkar partainya konglomerat hitam Aburizal Bakrie), dan Anton Medan (mantan preman yang mengaku telah tobat dan menjadi pimpinan pondok pesantren ”at-Taibin”) menjadi pemimpin orang-orang yang kalau tidak jahat, ya berarti tolol. Mungkin anda merasa risih saya gunakan kata ”tolol”, tapi itulah kenyataannya. Anton mengatakan ”secara pribadi saya menolak judi, tapi daripada pajak judi diambil negara lain lebih baik diambil negara kita.” Wah, kalau taubat, mengapa menyarankan negara melegalisasi judi dan mengambil pajak dari aktivitas haram itu. Permadi mengatakan, ”Lokalisasi itu di kapal pesiar sehingga yang mampu ke lokalisasi itu cuma orang-orang kaya.” Ada siasat keji yang bersembunyi di balik pernyataan tolol. Mana ada peraturan sebuah negara diskriminatif seperti itu. Lebih semakin terlihat tidak berkualitas lagi ketika dia ditanya presenter TV One, ”Ada lokalisasi WTS, buktinya masih banyak WTS di luar lokalisasi. Apakah jika ada lokalisasi judi, maka judi di luar lokalisasi bisa hilang?” Permadi diam, karena siasatnya tersingkap! Piliang lebih jahat lagi. Dia memfitnah ulama. Katanya ”Tidak mungkin Mahathir Muhammad berani membuka lokalisasi judi di Tanah Genting Malaysia tanpa persetujuan para ulama di Malaysia.” Untung saja ada yang membantah bahwa ulama malaysia menolak lokalisasi judi, Mahathirnya saja yang nekat membuat lokalisasi judi tersebut. Pernyataan Piliang pun mentah. Terlihat mentahnya di luar dan terbuka busuknya di dalam!!

Semoga Piala Dunia segera berakhir, beserta judi, ketololan para penjudi dan pendukungnya!

The Rise

rise - drise Hip..hip..hura…! Suit…suiw…! Hore…hore…! Plok..plok…plok…! Cocok banget kalo D'RISE nobatkan Ingga sebagai Teenager of The Year (TTY), diawal tahun ini. Lha, emangnya Ingga siapa? Kenapa juga kok doi yang D'RISE nobatkan sebagai TTY? Emangnya Ingga udah ngelakuin apa? Dasarnya apa? Woits, sabar, sabar.., cooling down please!.

Ingga emang cuman anak remaja biasa. Sama biasanya dengan para D'RISEr. Sama-sama suka baca D'RISE (ngarep…!). Doi tinggal di sudut kota kecil yang nggak keliatan di peta dunia (ups…!). Prestasinya pun tak ada yang istimewa. Terus kenapa dong Ingga jadi TTY versi D'RISE? (Beuuu…penasaran).

Alasannya cuman satu, karena Ingga telah bangkit. Cuman itu? Iya, doi telah berhasil meraih hidayah Allah dengan tangannya sendiri dan terus berusaha mempertahankannya (tau dong kalo hidayah itu diraih lho, bukan ditunggu. Emangnya bis kota!). Ingga baru aja naik ke kelas 10 di salah satu SMA negeri. Dari hasil obrolan D'RISE dengannya, terungkap bahwa doi termasuk anak yang begajulan waktu SMP. Seneng pacaran dan hura-hura bareng temen-temennya. Doi kenyang malang melintang di dunia hitam selama SMP.

Saat Ingga duduk di bangku SMA, mulailah doi kenal sama Islam lewat Rohis di sekolahnya. Nggak semua remaja lho yang mau meraih hidayah yang didakwahkan Rohis. Tapi dengan antusias Ingga mau tunduk dan menerima kebenaran Islam, lantas belajar Islam dan turut mendakwahkannya. Keren kan? Padahal kebanyakan remaja seusia doi lagi hot-hotnya pacaran, gaul bebas, maen-maen, dan foya-foya. Dengan kata lain, Ingga telah bangkit. Wuit wuiw…Mantap…Teenager of The Year…Congratulations.

Wajah Buruk Remaja

Seneng banget karena ternyata Ingga nggak sendirian. Di berbagai kota, semarak dengan remaja Islam yang juga rela meninggalkan kehidupan mereka yang nggak bener dan kembali ke pangkuan Islam. Dengan penuh semangat terus belajar Islam dan mendakwahkannya. Keren banget.!

Walaupun begitu, ternyata rentang perjalanan tahun-tahun yang lalu masih harus dikotori oleh hal-hal yang menyedihkan pada tubuh remaja Islam. Hal-hal negatif semacam seks bebas, aborsi, tawuran, narkoba, dll, masih membelit tubuh remaja Islam sampe ngap-ngapan. Hiks…hiks…

Brrrrrrrr…Remaja sekarang pada lihai bermain cinta. Malah saking lihainya sampe berani menjurus pada hal-hal yang bisa membahayakan diri mereka sendiri. Jaman sekarang belom cinta namanya kalo belom ML (making love alias zina). (gabrugs, babak belur euy).

Sebuah penelitian tentang perilaku seksual anak SMA di Surakarta pernah dilakukan pada tahun 2005. Penelitian itu dilakukan pada 1250 responden dari 10 SMA di Surakarta, yang terdiri dari 611 siswa laki-laki, dan 639 siswa perempuan. Hasilnya fantastis. Sebanyak 81,34% anak laki-laki pernah menggunakan media pornografi. Sementara 28,32% anak perempuan menjawab pernah menggunakan media pornografi. Lebih dari setengah jumlah anak laki-laki dan perempuan menyatakan sudah berpacaran sejak usia 15 tahun sampai 17 tahun. Urusan pacaran emang udah bener-bener akut. Kaya’nya anak muda nggak bisa napas kalo nggak pacaran. Haduh…!

Dari 462 anak laki-laki yang berpacaran ditemukan 30,09% telah melakukan hubungan intim dengan pacarnya. Sementara itu dari 469 anak perempuan yang pacaran ditemukan 5,33% pernah melakukan hal yang sama. Tuh kan, pacaran adalah jalan yang paling lempeng menuju perzinaan, makanya jangan pacaran deh.

Sekarang gimana kalo pertanyaannya apakah setelah mereka melakukan semua itu merasakan kepuasan? Sebanyak 43,88% anak laki-laki menjawab puas. Sedangkan hanya 12% anak perempuan yang jawab puas. Walah.

Ternyata yang lurus-lurus juga masih ada lho. Sebanyak 34,52% responden laki-laki menjawab merasa berdosa setelah melakukan seks pranikah. Dan 42,12% anak perempuan menyatakan hal yang sama. Masih waras. Kalo ngelakuin dosa, tapi enjooooy aajjaaaaa, tandanya udah gila.

Penelitian yang dilakukan Annisa Foundation selama 6 bulan, mulai Juli hingga Desember 2006 yang lalu, cukup mengejutkan. Penelitian ini dilakukan pada SMP dan SMA baik negeri maupun swasta di wilayah di Cianjur dan Cipanas. Ternyata sebanyak 42,3% pelajar di Cianjur sudah kehilangan keperawanannya saat masih duduk di bangku sekolah. Sebanyak 60% dari jumlah itu telah melakukan hubungan seks berpasangan. Dari jumlah itu sebanyak 12% menggunakan metode coitus interuptus, selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas di pasaran. Hanya 9% yang mengaku aktivitas seksual mereka karena dasar ekonomi, selebihnya mengaku melakukan itu karena tuntutan pergaulan dan suka sama suka (OMG). Sebenernya mereka bukannya nggak ngerti apa yang mereka lakuin itu salah, karena sebanyak 90% mengaku merasa berdosa setelah melakukan seks pranikah dan menyarankan perbuatan itu harus dihindari.

Di Jakarta, ibukota negara kita, ternyata lebih mantap lagi. Ternyata 5 dari 100 pelajar SMA di Jakarta telah melakukan hubungan seks pranikah. Hal itu terungkap dari hasil penelitian dr. Rita Damayanti yang disusun untuk meraih gelar Doktor pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Beliau meneliti 8941 pelajar dari 119 SMA dan yang sederajat di Jakarta. Terungkaplah bagaimana canggihnya gaya pacaran anak-anak Jakarta. Mereka berciuman, berpelukan, sampe puncaknya berhubungan intim. Lebih parah lagi, Republika terbitan 1 Maret 2007 menulis, hampir 50% remaja perempuan Indonesia melakukan hubungan seks pranikah. Yang lebih parah lagi, hasil survei Persatuan Keluarga Berencana Indonesia mengungkapkan bahwa remaja usia 13-15 tahun mengaku telah melakukan hubungan intim dengan pacar mereka, dan hubungan intim itu dilakukan di rumah sendiri. Oh Em Ji…canggih banget kan!!!

Akibat lanjutan dari seks bebas adalah pembunuhan. Lho kok pembunuhan? Iya, pembunuhan calon manusia alias aborsi, karena seks bebas pasti akan menimbulkan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Sebanyak 2,3 juta kasus aborsi terjadi di Indonesia, dan 30% diantaranya dilakukan oleh remaja. Bahkan jumlah ini adalah angka tertinggi di Asia Tenggara. Menurut Forum Komunikasi Penyayang Kehidupan ada sekitar 2 juta janin yang digugurkan baik oleh suami-istri yang tidak menginginkannya, maupun oleh perempuan atau pasangan yang belum menikah. Selain kasus aborsi, kasus pembuangan bayi juga marak terjadi. Di Jakarta aja terjadi 7 kasus pembuangan bayi selama bulan Februari 2009. Pastinya itu yang berhasil diketahui, yang nggak diketahui lebih bejibun lagi.

Haduh, kalo mau dirunut seisi D'RISE nggak bakalan muat untuk nulisin semua catatan menyedihkan dari dunia remaja. Nggak sedikit juga temen-temen kita yang telah gugur untuk membela harga diri dan kehormatan di dalam tawuran (beuu hiperbolis lagi), dan berapa banyak lagi yang hilang nyawanya dicabut narkoba.

Bangkitlah Generasi Islam

Bener-bener kisah sedih yang amat panjang. Tahun-tahun yang telah lalu bertabur dengan kekecewaan. Sebenernya kenapa ya kok keadaan remaja bisa jadi separah itu? Ada banyak faktor, bisa jadi karena broken home trus nggak dapet perhatian dari ortunya eh malah dapet perhatian dari pacarnya, trus rela menyerahkan ‘apapun’ demi sang pacar. Bisa jadi karena lingkungan yang nggak bener, diajakin sama temen gitu. Bisa jadi karena bertaburannya pornografi dan pornoaksi, jaman sekarang kan kaum wanita pake baju asal-asalan, kaum prianya mata keranjang dan otaknya mesum. Banyak faktor deh!

Kalo kita ulik-ulik lebih dalam lagi, faktor-faktor tadi adalah juga akibat yang timbul belakangan dari sebuah sebab yang paling utama. Nah, sebab utamanya adalah karena telah merajalelanya paham Liberalisme (serba bebas), dan paham Hedonisme (mau enaknya doang) di tengah-tengah kehidupan kita, termasuk remaja Islam. Dan kedua paham tadi bersumber dari ideologi Kapitalisme-Sekular. Puncak dari semua kerusakan itu adalah dengan diterapkannya ideologi sesat ini oleh negara. Semua itulah yang telah melahirkan moral yang rendah, rusak, dan bobrok pada diri remaja. Secara sadar maupun nggak sadar remaja Islam telah menjadi pengamal aktif dari paham-paham kufur tadi, sehingga mereka enjoy ajah dengan pergaulan bebas dan narkoba. Karena perilaku berisiko itu kemudian merebaklah KTD, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), HIV/AIDS, dan seluruh bencana kemanusiaan lainnya.

Jreng jreng jreng…Udah saatnya generasi Islam bangkit.

The Rise

Yoyoyoiiyyy…D'RISE mau ngasih salut dan congrats lagi nih sama Ingga, karena doi udah berhasil bangkit. Sebuah kebangkitan yang hakiki. Kaya gimana sih kebangkitan yang hakiki ituh? Bangkit adalah berubah. Kaya’ Ksatria Wajan Hitam ato Panci Manusia Aluminium? Bukaaaan!! Trus berubah kaya gimana dwoong? Secara panjang lebar Ustadz MR. Kurnia dari DPP Hizbut Tahrir Indonesia menjelaskan tentang kebangkitan dengan mengutip surat Ar-Ra’du ayat 11.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Untuk menggapai sebuah kebangkitan yang hakiki maka harus ada perubahan yang hakiki pada diri kita. Apaan sih yang harus diubah?

“Yang harus pertama kali diubah adalah mafahim (pemahaman) kita,” terang Pak Kurnia.

Kenapa harus mafahim yang diubah? Iya, karena mafahim itulah yang menentukan cara berpikir dan cara bertindak manusia. Bangkit atau terpuruknya manusia itu dilihat dari cara berpikir dan cara bertindaknya dalam menyikapi segala hal.

Kalo kita menjadikan Islam sebagai mafahim kita, maka cara berpikir dan cara bertindak kita pun akan islami. Tadinya cara berpikir dan cara bertindaknya Ingga nggak bener. Tapi kemudian Ingga berubah dengan menjadikan Islam sebagai mafahim-nya yang kemudian mengubah cara berpikir dan cara bertindaknya. Ingga telah meraih kebangkitan yang hakiki. Salutlah!!

Dan D'RISE ada untuk mengajak kawan-kawan bergerak menuju kebangkitan yang hakiki dengan menjadikan Islam sebagai mafahim kita serta mengubah cara berpikir dan cara bertindak kita terhadap kehidupan. Lalu sama-sama belajar Islam dan mendakwahkannya. Dengan kebangkitan yang hakiki itulah kita akan menyongsong tahun-tahun yang cerah dan ceria. Tetep semangat!!!

Box Buka Mata

The Rise of Teenager

Di setiap peradaban, kaum remajalah yang selalu menggulirkan perubahan dan kebangkitan. Soekarno pernah bilang kalau dia diberikan beberapa orang remaja saja dia akan bisa melakukan hal-hal menakjubkan. Hitler yang kejam itu pun menyadari peran penting remaja sehingga dia membentuk Hitler Youth.

Gitu juga dalam Islam. Orang-orang yang pertama kali menyambut seruan Rasulullah adalah para remaja. Tercatat dalam sejarah para sahabat muda seperti Zubayr bin Awwam, Mush’ab bin Umayr, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Zaid bin Tsabit, dan banyak lagi. Mereka semua bergerak membangkitkan masyarakat Arab jahiliyah dengan ideologi Islam.

Jaman sekarang kitalah yang akan mengikuti jejak mereka menjadi penggerak perubahan dan kebangkitan dengan syariat Islam. Tapi semua itu nggak bakal bisa kita lakukan kalo kita sendiri nggak ngerti Islam. Di sinilah pentingnya mempelajari Islam alias ngaji. Belajarnya pun nggak asal-asalan belajar, tapi harus menuruti tata kramanya. Gimana tuh? Seorang ulama brillian, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Syakhshiyah Islamiyah dalam bab Metode Pembelajar Islam. Yaitu: 1. Dipahami dengan mendalam. Maksudnya harus bener2 ngerti; 2. Setelah dipahami dengan mendalam harus diyakini; 3. Harus bersifat praktis, untuk diamalkan, bukan sekedar buat kepuasan intelektual ajah. Gitu!

Yosh…pada ngaji deh!!!

Sistem Pemerintahan yang Diwajibkan Allah adalah Sistem Khilafah

Sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan alam semesta adalah sistem Khilafah. Di dalam sistem Khilafah ini Khalifah diangkat melalui baiat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk memerintah sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan. Dalil-dalil yang menunjukkan kenyataan ini sangat banyak, diambil dari al-Kitab, as-Sunnah, dan Ijmak Sahabat.

Dalil dari al-Kitab di antaranya bahwa Allah SWT telah berfirman menyeru Rasul saw.:

Karena itu, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 48).

Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu. (QS al-Maidah [5]: 49).

Seruan Allah SWT kepada Rasul saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan juga merupakan seruan bagi umat Beliau. Mafhûm-nya adalah hendaknya kaum Muslim mewujudkan seorang hakim (penguasa) setelah Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara di tengah-tengah mereka sesuai dengan wahyu yang telah Allah turunkan. Perintah dalam seruan ini bersifat tegas karena yang menjadi obyek seruan adalah wajib. Sebagaimana dalam ketentuan ushul, ini merupakan indikasi yang menunjukkan makna yang tegas. Hakim (penguasa) yang memutuskan perkara di tengah-tengah kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. adalah Khalifah, sedangkan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah. Apalagi penegakan hukum-hukum hudûd dan seluruh ketentuan hukum syariah adalah wajib. Kewajiban ini tidak akan terlaksana tanpa adanya penguasa/hakim, sedangkan kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka keberadaan sesuatu itu hukumnya menjadi wajib. Artinya, mewujudkan penguasa yang menegakkan syariah hukumnya adalah wajib. Dalam hal ini, penguasa yang dimaksud adalah Khalifah dan sistem pemerintahannya adalah sistem Khilafah.

Adapun dalil dari as-Sunnah, di antaranya adalah apa yang pernah diriwayatkan dari Nafi’. Ia berkata: Abdullah bin Umar telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda:


«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»

Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah, dan siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak terdapat baiat (kepada Khalifah), maka ia mati seperti kematian Jahiliah.
(HR Muslim).

Nabi saw. telah mewajibkan kepada setiap Muslim agar dipundaknya terdapat baiat. Beliau juga menyifati orang yang mati, yang di pundaknya tidak terdapat baiat, sebagai orang yang mati seperti kematian Jahiliah. Baiat tidak akan terjadi setelah Rasulullah saw. kecuali kepada Khalifah, bukan kepada yang lain. Hadis tersebut mewajibkan adanya baiat di atas pundak setiap Muslim, yakni adanya Khalifah yang dengan eksistensinya itu terealisasi adanya baiat di atas pundak setiap Muslim. Imam Muslim menuturkan riwayat dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ»

Sesesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).

Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Abi Hazim yang berkata: Aku mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengar ia menyampaikan hadis dari Nabi saw. yang bersabda:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ»

“Dulu Bani Israel diurusi dan dipelihara oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para Khalifah, yang berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi saw. bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus.”
(HR al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadis-hadis ini terdapat sifat bagi Khalifah sebagai junnah (perisai) atau wiqâyah (pelindung). Sifat yang diberikan oleh Rasul saw. bahwa Imam adalah perisai merupakan ikhbâr (pemberitahuan) yang mengandung pujian terhadap eksistensi seorang imam/khalifah. Ikhbâr ini merupakan tuntutan karena ikhbâr dari Allah dan Rasul saw., jika mengandung celaan, merupakan tuntutan untuk meninggalkan, yakni larangan; jika mengandung pujian, merupakan tuntutan untuk melakukan. Jika aktivitas yang dituntut itu pelaksanaannya memiliki konsekuensi terhadap tegaknya hukum syariah atau pengabaiannya memiliki konsekuensi terabaikannya hukum syariah, maka tuntutan itu bersifat tegas. Dalam hadis ini juga terdapat ikhbâr, bahwa orang yang mengurus kaum Muslim adalah para khalifah, yang berarti, hadis ini merupakan tuntutan untuk mengangkat khalifah. Apalagi Rasul saw. telah memerintahkan kaum Muslim untuk menaati para khalifah dan memerangi siapa saja yang hendak merebut jabatan dalam kekhalifahannya. Perintah Rasul saw. ini berarti perintah untuk mengangkat khalifah sekaligus menjaga eksistensi kekhalifahannya dengan cara memerangi semua orang yang hendak merebut kekuasaannya. Imam Muslim telah menuturkan riwayat bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«وَ مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَ ثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اِسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرٌ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرِ»

Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah serta telah memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaatinya sesuai dengan kemampuannya. Lalu jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya, maka penggallah leher (bunuhlah) orang itu.
(HR Muslim).

Dengan demikian, perintah untuk menaati Imam/Khalifah merupakan perintah untuk mengangkatnya, dan perintah untuk memerangi siapa saja yang hendak merebut kekuasaan Khalifah menjadi qarînah (indikasi) yang tegas di seputar keharusan untuk mewujudkan hanya seorang khalifah saja.

Adapun dalil berupa Ijmak Sahabat maka para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat atas keharusan mengangkat seorang khalifah (pengganti) bagi Rasulullah saw. setelah Beliau wafat. Mereka telah bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, lalu Umar bin al-Khaththab, sepeninggal Abu Bakar, dan kemudian Utsman bin Affan. Sesungguhnya tampak jelas penegasan Ijmak Sahabat terhadap kewajiban pengangkatan khalifah dari sikap mereka yang menunda penguburan jenazah Rasulullah saw. saat Beliau wafat; mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah (pengganti) Beliau, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib. Para Sahabat, yang berkewajiban mengurus jenazah Rasul saw. dan menguburnya, ternyata sebagian dari mereka lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah dan menunda penguburan jenazah Beliau; sebagian yang lain membiarkan penundaan itu; mereka sama-sama ikut serta dalam penundaan pengebumian jenazah Rasul saw. sampai dua malam. Padahal mereka mampu mengingkarinya dan mampu menguburkan jenazah Rasulullah saw. Rasul saw. wafat pada waktu dhuha hari Senin dan belum dikuburkan selama malam Selasa hingga Selasa siang saat Abu Bakar dibaiat. Kemudian jenazah Rasul dikuburkan pada tengah malam, malam Rabu. Jadi, penguburan jenazah Rasul saw. itu ditunda selama dua malam, dan Abu Bakar dibaiat terlebih dulu sebelum penguburan jenazah Rasul saw. Dengan demikian, realitas tersebut merupakan Ijmak Sahabat yang menunjukkan keharusan untuk lebih menyibukkan diri untuk mengangkat khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tidak akan terjadi kecuali bahwa mengangkat khalifah lebih wajib daripada mengebumikan jenazah. Para Sahabat seluruhnya juga telah berijmak sepanjang kehidupan mereka mengenai kewajiban mengangkat khalifah. Meski mereka berbeda pendapat mengenai seseorang yang dipilih sebagai khalifah, mereka tidak berbeda pendapat sama sekali atas kewajiban mengangkat khalifah, baik ketika Rasul saw. wafat maupun saat Khulafaur Rasyidin wafat. Walhasil, Ijmak Sahabat ini merupakan dalil yang jelas dan kuat atas kewajiban mengangkat khalifah. [Sumber: Struktur Negara Khilafah ]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku