NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Install Toolbar KALAM di Browser Yuk

Untuk mendownload klik Disini!

Tombol Syndication - Menjadikan Pembaruan Blog Kalam Menjadi Status

for u girls, come and join us! u'll got everything here!

Sumpah Mahasiswa

Setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah menjadi sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan - untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya Syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.

5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Jakarta, 18 Oktober 2009

Buletin Dakwah KALAM


Inilah Beberapa Gembong Liberal

ImageMereka selalu tak setuju dengan pemahaman pokok dalam ajaran Islam. Mereka menginginkan kaum Muslim berpikir seperti orang Kristen dan Yahudi.

Sebenarnya, kalau mau jujur, tidak banyak jumlah gerombolan liberal di Indonesia. Hanya beberapa gelintir. Namun keberadaannya mendapat sokongan dari media massa. Sebuat saja Tempo, Ja-karta Post, dan Jawa Pos. Melalui media massa inilah tokoh-tokoh itu sengaja dimunculkan untuk merusak pemikiran Islam dan kaum Muslimin. Tanpa dukungan media massa untuk mengaktuali-sasikan diri, mereka tak ada apa-apanya. Berikut beberapa orang yang sering muncul ke per-mukaan.

Siti Musdah Mulia

Dosen UIN Syarif Hidaya-tullah Jakarta ini merupakan perempuan yang paling menon-jol di kalangan gerombolan liberal di Indonesia. Hal itu tidak lepas dari dukungan asing yang sangat kuat kepadanya. Berbagai penghargaan didapatkannya dari luar negeri karena dianggap gigih memperjuangkan keseta-raan gender, menentang semua bentuk diskriminasi serta mem-promosikan demokrasi.

Selama ini sepak terjang perempuan kelahiran Bone, 1958, nyata sekali menyerang dan berusaha menghancurkan akidah umat Islam. Ia mengaju-kan gagasan baru yang bersum-ber dari paham sekuler-liberal. Aktivitasnya tersebut mendapat dukungan asing. Misalnya ketika menyusun Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) pada 2004, ia dibantu Rp 6 milyar dari The Asia Foundation, yayasan dari Amerika yang mendukung liberalisme.

Kendati banyak ditentang oleh para ulama, Musdah tidak peduli. Ia terus saja menyebarkan virus akidah ke tengah-tengah umat Islam. Beberapa virus yang disebarkan itu antara lain:

Pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri (Draft CLD-KHI).

Semua laki-laki dan perem-puan sama, tak peduli etnis, kekayaan, posisi-posisi sosial, bahkan orientasi seksualnya. “Tidak ada perbedaan antara les-bian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada ke-imanan mereka,” katanya. Kare-nanya ia menghalalkan pernikah-an sesama jenis.


M Dawam Rahardjo

Di kalangan liberal, ia ter-masuk generasi senior. Ia adalah promotor dan pembela Ahmadi-yah yang sangat gigih di Indo-nesia. Dawamlah yang mem-bawa Khalifah Ahmadiyah ke Indonesia pada 2008 dan mem-promosikan ajaran sesat itu.

Ketika MUI mengharamkan sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme, ia adalah orang yang paling lantang mengecam fatwa tersebut. Dalam wawancara Gat-ra (6/8/2005) ia mengatakan, “Saya beranggapan yang sesat itu, ya Majelis Ulama itu.”

Pernyataannya yang paling bombastis adalah, “Pindah aga-ma tidak murtad”. Menurut Dawam, kebebasan beragama berarti kebebasan untuk berpin-dah agama, berpindah pilihan dari satu agama ke agama lain. Dan berpindah agama, kata Da-wam, tidak kafir. Istilah kafir, menurutnya, bukan berarti ber-agama lain tapi karena menen-tang perintah Tuhan.


Ulil Abshar Abdala

Ia adalah dedengkot JIL. Kini ia sekolah di Amerika Serikat. Pemikiran-pemikirannya berba-haya. Berikut beberapa kutipan pernyataannya: “Semua agama sama. Semuanya menuju kebe-naran. Jadi Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa terjadi di Kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan kesela-matan di luar gereja. Baru pada 1965 Masehi gereja Katolik di Vatikan merevisi paham ini. Se-dangkan Islam yang berusia 1423 tahun hijrah Nabi, belum memi-liki kedewasaan yang sama se-perti Katolik.” (Gatra, 21/12/2002).

“Negara sekuler lebih ung-gul daripada negara Islam ala fundamentalis, sebab negara sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemak-siatan sekaligus” (Tempo, edisi 19-25 November 2002)

“Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua ma-salah adalah bentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk ekapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan” (Kompas, 18/11/2002).


Sumanto Al Qurtuby

Ia sering dipanggil 'Romo Manto' alias 'Wirosableng dari Alas Roban' di kampusnya dulu yakni IAIN Semarang. Ini tidak lepas dari pemikirannya yang sangat berani menentang Islam. Bisa jadi ini didapatkannya dari kuliah berikutnya di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Belakangan namanya sering muncul di media massa.

Dalam bukunya 'Lubang Hitam Agama' ia menulis: “Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika dikatakan Alquran, dalam batas tertentu, adalah 'perang-kap' yang dipasang bangsa Quraisy (hal 65).

Masih di buku yang sama, ia menulis: “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan ke-pada Tuhan, mungkin dia hanya tersenyum simpul. Sambil me-nunjukkan surga-Nya yang Ma-haluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang antara lain Jesus, Muhammad, sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Na-was, Romo Mangun, Bunda Tere-sa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir. (hal 45).

Ia dikenal sangat men-dukung homoseksual. Ia sukses membawa rekan-rekannya di Jurnal Islam Justisia (IAIN Sema-rang) menerbitkan buku ber-judul: Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlin-dungan Hak-hak Kaum Homo-seksual (eLSA, 2005).

Ada beberapa sosok lagi. Mereka kebanyakan bergerak di kampus, utamanya Universitas Islam Negeri dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM. Na-mun inti yang mereka sampaikan sama, mereka ingin membawa kaum Muslim keluar dari ajaran Islam yang hakiki.

Profil Ketua Umum KALAM UPI Bandung

Beliau adalah Panji Agnyoto, Ketua Umum KALAM UPI masa bakti 2009/2010. Panji dilahirkan pada hari kamis 27 Agustus 1987, anak kedua dari empat bersaudara. Aktifitas dakwah ia mulai ketika memasuki bangku kuliah dengan keanggotaannya sebagai aktivis KALAM UPI.

Panji mengawali karir politik di KALAM UPI terhitung sejak periode 2006/2007 dengan status anggota biasa. Dalam kaitannya dengan jaringan dakwah BKLDK, pada masa tersebut ia turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan Simposium Nasional Pendidikan dengan KALAM UPI sebagai tuan rumah sekaligus panitia penyelenggaranya.

Pada tahun 2007/2008 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Penerangan yang merupakan salah satu sektor kerja KALAM UPI dan concern pada public opinion maupun advokasi umat di lingkungan kampus UPI. Di tahun yang sama ia diberikan amanah untuk menjadi duta BKLDK perwakilan KALAM UPI, yang kala itu KALAM merupakan Kordinator daerah BKLDK. Tercatat ada beberapa kegiatan yang ia ikuti, diantaranya menyiapkan pembentukan LDK di kampus Universitas Galuh Ciamis hingga musyawarah nasional BKLDK yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang.

Track record dakwah kemudian berlanjut di tahun berikutnya, yakni pada periode 2008 / 2009 dengan jabatan Sekjen. Hingga pada tahun ke-empatnya sebagai mahasiswa, ia terpilih sebagai Ketua Umum KALAM UPI periode 2009/2010 dengan jargon KALAM era EMAS. Panji memiliki mimpi untuk menjadikan tahun terakhir keterlibatannya di KALAM sebagai masa dimana pertolongan Allah turun dari berbagai arah. Selain itu, mimpi tersebut merupakan wujud rasa syukur karena Allah azza wa jalla telah menjadikan KALAM sebagai tempat ia berlabuh yang sangat berarti dalam mengenal Islam beserta keagungannya.

Dalam kepemimpinannya, ia merumuskan strategi kepengurusan 2-1-1-2 yang berarti, 2 bulan pertama untuk konsolidasi internal, 1 bulan untuk politik pencitraan dan networking, 1 semester rekrut secara massive, dan 2 bulan terakhir sebagai masa penyiapan generasi penerus.

Di awal kepengurusan ia coba menata mekanisme organisasi, strategi dan target termasuk men-solidkan “pasukan”. Hal ini sangat penting untuk dilakukan mengingat setiap calon pengurus datang dari berbagai latar belakang, karakteristik, persepsi, dan ekspektasi.

Tahapan kedua dilanjutkan dengan politik pencitraan dan networking. Langkah ini dijalankan untuk menyiapkan lingkungan dakwah yang kondusif sekaligus membangun reputasi yang baik tentang KALAM.

Di awal kepengurusan ia tetapkan strategi “blitzkrieg”, yang merupakan paduan antara kekuatan opini masa dan kecepatan rekrutmen. Selain itu, ditetapkan pula dua indikator penting, indikator keberhasilan dari opini baik melalui acara-acara insidental maupun rutin yang dijalankan adalah ketika mampu merekrut orang dengan jumlah besar dengan alur kaderisasi yang cepat, sementara indikator keberhasilan rekrutmen dan kaderisasi adalah ketika mampu menghasilkan output yang siap menjadi propagandis atau agen KALAM yang mampu menyebarkan opini lebih luas lagi.

Menyambung dari tahapan sebelumnya, apa yang diusahakan pada tahap kedua mulai membuahkan hasil. Kedekatan dengan beberapa pihak, yang sebelumnya belum terbangun dengan baik, mulai menampakkan secercah harapan. Hal ini tentu berdampak pada kelancaran proses dakwah. Simpul dakwah mulai terurai. Pendanaan kegiatan tak lagi jadi rintangan. Ini tentu membuatnya semakin yakin bahwa turunnya pertolongan Allah adalah sebuah keniscayaan.

Dalam hal segmentasi dakwah, dirancang format KALAM goes to class yang intinya menetapkan kelas sebagai pangsa pasar atau target dakwah yang segmented. Ia memandang bahwa trend dakwah kampus akan bergeser. Kalau sebelumnya dakwah kampus dinisbatkan pada upaya penguasaan BEM, Senat, Himpunan, dan lain sebagainnya. Namun, pada saat ini kecenderungan mahasiswa untuk berafiliasi dengan organisasi kemahasiswaan terus menurun. Sehingga yang harus diupayakan dalam dakwah adalah memasuki institusi terkecil di kampus, yakni kelas. Setiap mahasiswa yang terdaftar di suatu perguruan tinggi pasti tergabung di satu kelas. Kendatipun upaya ini merupakan perjuangan yang penuh tantangan, tetapi apabila proyek ini dapat disukseskan maka dakwah akan dapat menjangkau seluruh kalangan mahasiswa sehingga tak ada lagi penghalang antara mahasiswa dengan LDK.

Last but not least, tahapan terakhir merupakan tanggung jawab yang besar dimana kepemimpinan tahun ini adalah cerminan bagi kepemimpinan tahun berikutnya, dan kepemimpinan tahun depan adalah buah dari kepemimpinan tahun ini. Hal inilah yang mendorong panji untuk membuat format karantina pra kepengurusan. Pada format ini, ia fokuskan untuk menyiapkan kader penerus. Maka ditetapkanlah empat kompetensi yang harus dimiliki setiap individu calon pengganti diantaranya, kompetensi profesional yang berkaitan dengan soft skill dan kemampuan strategis serta manajerial organisasi, kompetensi pedagogik terkait dengan penguasaan tsaqofah dan kemampuan untuk menjadi mentor maupun pembicara, kompetensi kepribadian yang erat kaitannya dengan Character Building yang kokoh serta militansi dan loyalitas, dan yang terakhir kompetensi sosial yang berkaitan dengan kemampuan interpersonal dan emotional. Semua itu ia kemas dalam program pembekalan pra-kepengurusan yang berjalan selama kurang lebih dua bulan. Semoga dengan upaya ini semua KALAM era EMAS menjadi realita dan Allah pun meridhainya sehingga ada masa depan yang lebih baik, Insya Allah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku