Sang “Mujtahid Arsitek” dari Daulah Islam
Abdurrahman al-Ghafiqi Nyaris Menaklukkan Seluruh Eropa
Setelah Spanyol jatuh ke tangan kaum Muslim di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad, di masa Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik, pasukan kaum Muslim pun sampai di wilayah Prancis. Al-Samah bin Malik al-Khaulani, wali Spanyol dan sekitarnya saat itu, bertekad untuk menyerang seluruh Prancis dan mengintegrasikannya dengan Khilafah Islam. Dia ingin menjadikan Prancis sebagai jalur untuk menaklukkan negeri-negeri di wilayah Balkan. Dari Balkan, dia ingin menaklukkan Konstantinople, demi mewujudkan bisyarah Rasul SAW. Langkah pertama adalah menguasai kota Arbunah, kota terbesar di Prancis, yang berdekatan dengan Spanyol.
Setelah al-Khaulani meninggal, Khalifah Hisyam bin Abd al-Malik mengangkat Abdurrahman al-Ghafiqi, salah seorang tabiin agung, sebagai wali Andalusia tahun 112 H, yang merupakan wali ketujuh. Dari sana, dia melakukan penaklukan ke wilayah al-Ghal (kini masuk wilayah Prancis). Untuk mewujudkan rencananya itu, dia memanggil kaum Muslim dari Yaman, Syam, Mesir dan Afrika untuk membantunya. Mereka pun berbondong-bondong ke sana. Meletuslah perang besar di Eropa, antara pasukan kaum Muslim dengan kaum Kristen, yang terjadi pada tahun 114 H. Perang ini dikenal dengan Perang Balath as-Syuhada’.
Namun, sebelum ke sana, Abdurrahman al-Ghafiqi menyusun kekuatan kaum Muslim. Dia meyakini, bahwa persiapan perang besar itu harus dimulai dari perbaikan dan pembersihan diri. Dia pun mulai keliling Spanyol, di setiap kota dia singgah seraya menyerukan kepada penduduknya, “Siapa saja yang pernah dizalimi oleh pejabat, hakim atau seseorang, hendaknya menyampaikannya kepada Amir.” Dia tidak membedakan antara Muslim dan non-Muslim. Setelah itu, dia pun memeriksa kondisi pejabat di bawahnya satu per satu. Siapa yang terbukti berkhianat dan menyeleweng dicopot. Kemudian diganti dengan orang yang sudah dipercaya kebijakan, kebaikan dan kecekapannya. Gedung dan fasilitas yang dibangun dengan harta haram dia hancurkan. Ketika berada di tengah-tengah rakyat, dia menyerukan untuk shalat berjamaah, kemudian dia berdiri memberikan khutbah, dan memotivasi mereka untuk menyiapkan diri berjihad, dan mendapatkan mati syahid.
Perang besar pun tak terelakkan lagi. Separuh Prancis bagian selatan pun jatuh ke tangan Abdurrahman al-Ghafiqi bersama 100.000 tentaranya hanya dalam beberapa bulan. Kenyataan yang membuat Eropa dari ujung ke ujung diliputi kecemasan dan ketakutan luar biasa akan ancaman pasukan kaum Muslim. Pasukan kaum Muslim pun mendapatkan kemenangan besar dan ghanimah yang banyak. Abdurrahman al-Ghafiqi melihat ghanimah ini bisa menjadi sumber fitnah. Jika segera dibagi bisa menjadi masalah, kalau ditunda-tunda pun bisa menjadi masalah. Akhirnya, ghanimah itu dikumpulkan di sebuah kemah. Pada hari kedelapan peperangan, ternyata kemah ini diserang oleh pasukan kaum Kafir, dan serangan ini membuat mereka tidak konsentrasi pada musuh, malah konsentrasi untuk menyelamatkan ghanimah. Akibatnya, pasukan kaum Muslim pun berhasil dipukul, dan tubuh Abdurrahman al-Ghafiqi pun tertembus panah. Dia syahid. Perang yang nyaris dimenangkan kaum Muslim pun akhirnya sirna. Persis seperti peristiwa Perang Uhud. Andai kemenangan itu berada di tangan kaum Muslim, seluruh Eropa saat itu dipastikan akan jatuh ke tangan kaum Muslim. (Hafidz Abdurrahman)
KISAH TELADAN. SEMANGAT JIHADLAH YANG BERHASIL MEMPECUNDANGI PENJAJAH SEKUTU DAN BELANDA
ABU AYYUB AL ANSHARI ( SEMANGAT PEMUDA DALAM FISIK YANG TUA )

Saat Nabi Muhammad Saw berhijrah ke Madinah, beliau Saw disambut oleh penduduk Madinah dengan meriahnya, ya memang sosok Rasulullah Saw sudah sangat diidolakan oleh kaum muslimin di Madinah, semua penduduk Madinah membuka pintu dan berharap Rasulullah bersedia tinggal di rumahnya, bahkan para pemimpin Madinah pun sampai berlutut memohon kepada Beliau Saw, agar mau tinggal di rumah mereka. Namun Rasul saw bersabda “ Biarlah untaku ini berjalan sesuai kehendaknya dan berhenti dimana pun maka di sanalah saya akan tinggal, karena unta ini Insya Allah telah mendapat bimbingan Allah SWT dalam tiap langkahnya”. Akhirnya unta Nabi Saw berhenti di rumah seorang laki-laki tua bernama Abu Ayyub Al Anshari, lalu beliau pun tinggal untuk sementara waktu di sana.
Kisah mualaf keturunan Tionghoa
Ketika aku memutuskan meninggalkan agama Katolik, sejak saat itu pulalah ia tidak percaya adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Masa-masa seperti itu ia alami hingga menjelang akhir duduk di SMP.
Percaya tapi tak beragama
Meskipun meyakini bahwa Tuhan itu ada, namun hal itu tidak lantas membuatku memutuskan untuk memilih salah satu ajaran agama sebagai jalan hidupku, ''Ketika saya mencari siapa sesungguhnya Tuhan itu ke Kristen Protestan, tidak dapat. Begitu juga di agama Buddha, karena tuhannya juga bersifat manusia, tidak layak untuk dijadikan Tuhan.
Aku terus mencari jawaban dari ketiga pertanyaan besar ini. Proses pencarian itu berakhir di pertengahan tahun 2002, begitu diriku menginjak bangku kuliah semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ketika itu, diriku memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, aku tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam.
Suatu ketika salah seorang teman kosku yang Muslim menyarankannya untuk menemui seorang ustadz untuk mendiskusikan tiga pertanyaan besar itu. ''Saya bilang, selama ini saya diskusi dengan ustadz sama saja. Mereka enggak ada bedanya dengan pastor, cuma mereka pintar menyembunyikan kejahatannya,'' kataku menanggapi saran temanku kala itu.
''Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana dia (Islam--Red) menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya.
Dari sini kemudian diriku tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2 yang menyatakan
Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan
Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orangku syok dan marah. Namun, kemarahan keduanya hanya ditunjukkan dalam bentuk rasa kekecewaan. ''Kalau sampai pada pengusiran memang tidak terjadi seperti yang dialami mualaf lainnya.''
''Kalau anak saya dibawa ke tempat orang tua pakai kerudung, ibu saya tidak akan mau menggendongnya. Tapi, bapak saya masih mau menggendongnya,''.
Sementara ayahku merasa keberatan jika cucu perempuannya itu diminta untuk memanggilku dengan sebutan abi. Pasalnya, menurut ayah, panggilan abi tersebut tidak ada kewajibannya di dalam Alquran.
Kendati begitu, aku merasakan sebuah kepuasan diri yang tidak pernah dirasakan sebelum menemukan Islam. Selain itu, dengan meyakini Islam, hidupku menjadi lebih bermakna dan terarah.
''Merasa puas karena setiap fenomena yang saya lihat dalam hidup ini bisa dijelaskan dengan Islam. Saya juga lebih punya tujuan hidup karena saya sudah tahu dari mana asal saya, apa yang harus saya lakukan di dunia ini, dan saya mau ke mana setelah mati,'' ujarnya.













