NU: Perlawanan Terhadap Penjajah.

Al-Khilafah Islamiyah Perkara Mendesak..

Mendudukan Sejarah Kekhilafah`n Islam.

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Lolong Gundah ke tak berdayaan

Untukmu yang menjadikan jiwa sebagai martir perubahan!


Wahai martir-martir yang bertahan dari dentuman tangan kedlaliman!
Teguhkanlah dan yakinkanlah diri akan balasan indah yang kelak Ia balaskan.
Tetaplah bertahan dalam Istiqamah..
Catatan emas mudamu kan terukir dilangit dunia.
Yakinlah saudaraku!
Luruskanlah perjuangan, untuk mengembalikan hak Rabbmu,
bukan hanya sekedar mencapai kebebasan dari kaum penguasa pendengki
Tapi,..
Jalanmu adalah untuk Rabbmu!
Jalanmu adalah untuk kembalikan izah umat ini!
Yakinkanlah,
Yakinkanlah,
Dan yakinkanlah itu!
Wahai para wanita mulia!
Yang tak hanya mempersiapkan generasi martir dan terdepan,
Tapi juaga menjadikan diri terdepan dalam perjuangan!
Bersabarlah saudariku!
Meski panasnya mortir dan rudal merobek jantung-jantung dan hati-hatimu.
Bersabarlah!
Meski air itu belum kunjung tiba.
Bersabarlah!
Karna Sunguh sabar itu sebentar!
Jadikanlah jasad yang kau korbankan tak sia-sia,
Jadikanlah jiwamu adalah jiwa yang terakhir terdlalimi tangan-tangan fasik.
Perjuangkanlah pengakaran kaliamat tauhid!
Melalui jalan syariah yang mulia dan Khilafah yang agung yang kan menjaganya,
Agar generasi terdepan tak perlu merasakan pengap hidup yang kita hirup.
Wahai para pemuda-pemudi yang ada dibarisan terdepan diperjuangan!
Maapkan tangan ini yang tak mampu menjangkaumu,
Ampuni jiwa ini yang masih terkantuk dalam ketenangan.
Bilakah diri ini mampuh,
Kan terlampaui segala samudra dan benua,
Menciduk sepercik darah wangimu,
Ampunilah, ampunilah, saudaramu yang dhaif ini!
Wahai kau penguasa alam!
Yang gagah lagi perkasa!
Hancurkanlah tangan penguasa lalim dengan sehancur-hancurnya,
Sertakanlah kehancuran kaki dan tangan militer-militer jagal terhina dan paling terhina,
Seretlah mereka dalam lubang-lubang jahanam,
Keculai bagi mereka yang mau mengambil taubat,
Memalingkan muka dari kedlaliman dan membalik menolong agama-Mu,
Selamatkanlah dan muliakanlah siapa pun mereka,
Tak peduli apa yang pernah mereka lakukan dimasa yang telah usai
Tolonglah mereka dari sempitnya hidup dan kejaran pedang disetiap detik
Wahai Pemegang janji dan tak pernah teringkari!
Segeralah angkat nafas sesak dunia,
Dari setiap saluran syaraf hambamu.
Ambilah peluh dan jiwa ini,
Bila semua membuat kesegeraan,
Kesegaraan atas terwujudnya janji-Mu yang pasti.
Tegaknya Khilafah!
Sungguh setitikpun tak pernah kami ragu akan keagungan-Mu,
Sungguh sebersit pun tak pernah kami goyah akan janji-Mu,
Maka, berikanlah kesabaran yang tak berujung,
Kepada kami, insan dhaif ini,
Wahai dzat yang menggenggam setiap jiwa-jiwa!

ImAjI
Ditengah linangan getirnya hati meratapi berita saudari dihajari dlalim dan disereti militer jagal munafik jahanam.

Klik untuk masuk link berita saudari yang di dlalimi

ANAK KERANG

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam."

"Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ;

air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

*******************************************************************

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".

Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang,

atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, kesedihan, atau terluka karena orang2 dan hal2 di sekitar kamu.

Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.
"Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2... "

Jeritan Hati Muslimah Perantauan, Curhat untuk Muslimah Indonesia

Duhai ukhti di tanah air yang kucintai karena Allah,

Perkenankan aku membagi ungkapan hati ini kepadamu, ukhti di tanah air. Mungkin tidak ada yang menarik dari rintihan jiwa kami di negeri seberang ini. Namun aku berharap engkau sudi membacanya sebentar, dan kumohon maaf jika surat ini kurang memberimu manfaat maupun keuntungan materi.

Ukhti yang dirahmati Allah, tahukah engkau nasib kami di negara di mana muslim menjadi minoritas? Tahukah ukhti beban yang menohok kami kaum muslimah di negeri rantau?

Ukhti, kami merindukan kerudung lebar, mengingat derasnya fitnah yang menerpa zaman, juga karena takutnya akan azab pedih di neraka kelak. Tetapi, berada di negara orang sebagai pekerja kasar, tidak memungkinkan kami menutupi aurat dengan kerudung panjang. Sungguh, hati menjerit dengan kondisi ini, namun apalah daya, kami tidak punya pilihan. Dan kami tidak menyerah dengan keadaan ini, tetap berkerudung panjang meski harus menjadi bulan-bulanan tuan rumah. Semua keadaan itu membuat kami kian gencar memperjuangkan hak sebagai muslimah, karena kami malu jika aurat ini menjadi tontonan gratis lelaki bukan mahram.

Ukhti yang dimuliakan Allah, tahukan engkau, kami harus menempuh jarak beberapa kilometer dengan kendaraan umum jika ingin mendengar alunan azan di masjid. Itupun hanya dapat kami lakukan di hari libur, karena pekerjaan kami tidak bisa ditinggal. Kondisi keseharian kami tidak memungkinkan untuk pergi ke masjid yang jumlahnya hanya ada tiga saja di negeri ini. Namun semua ini tidak menghalangi langkah kami untuk tetap pergi ke masjid, mendengar alunan merdu, untaian sejuk perkasanya kalimat azan. Karena jiwa kami kering kerontang merindu kalimat azan yang suci. Hati kami yang gersang mendambakan kalimat yang dapat menenggelamkan kami dalam renungan panjang akan keagungan Ilahi.

Ukhti di tanah air, tahukah engkau bagaimana kami dan rekan-rekan di sini menjalankan shalat? Sebagian dari kami melakukan shalat di pinggir jalan, di teras taman, di dekat tempat pembuangan sampah, juga di tempat ala kadarnya. Karena aturan ketat yang melarang shalat membuat kami harus cerdik menyiasati kondisi, di manapun tempat, asal bersih akan kami jadikan tempat untuk meresapi keagungan Allah melalui shalat, tak peduli derasnya cacian ataupun makian yang menganggap kami gila. Walhamdulillah… kami tidak mengeluh keadaan ini, bersyukur masih diberi kesempatan menikmati khusyu’nya shalat di tengah ujian yang berat, kami membutuhkan shalat, kami membutuhkan Allah dalam setiap helai nafas.

Ukhti yang baik hati, tahukah engkau apa yang dilakukan orang-orang terhadap kami para pekerja wanita? Kami sering mendapat perlakuan diskriminasi, baik dari sesama warga Indonesia maupun negara tujuan. Kami mendapat banyak cibiran akan status kami, direndahkan secara terang-terangan, hanya karena bergelar TKW. Yang membuat kami heran, apa bedanya pekerja kantor maupun kuli kasar, toh juga sama-sama pekerja, nyatanya status kami ini membuat orang gerah, dengan embel-embel negatif tentang TKW.

Terkadang kami disalahkan karena bershafar tanpa mahram. Tidak salah cercaan itu, namun kami butuh solusi nyata, bukan hujatan keji yang menghinakan.

Bagaimana mungkin kami para wanita diam saja di rumah, sedangkan anak-anak kami, adik-adik kami, saudara kami, semuanya membutuhkan perjuangan kami? Keringat kami di negeri asing ini sangat mereka butuhkan demi sesuap nasi dan demi biaya pendidikan untuk masa depan. Sementara negara tidak mampu membantu keadaan kami.

Yaa ukhti, kami diperlakukan tidak ramah oleh orang-orang Indonesia yang katanya ditugaskan mengurus masalah rakyat Indonesia di negara kami bekerja, walaupun sesungguhnya devisa atas kerja keras kami tidak kecil sumbangsihnya buat negara, dan asuransi yang menjadi hak kami tidak jelas ditelan siapa.

Saudara-saudara kami dimurtadkan karena ekonomi, bagaimana mungkin kami berdiam diri menunggu nasib tanpa ikhtiar?

Kami berusaha tegar akan semua ini, karena perjuangan kami hanya untuk Allah, biarkan Allah yang menilai niat kami.

Tapi ukhti, bukan perlakuan tak manusiawi tiu yang membuat hati kami merintih dan menangis. Aku dengar, kalian di negara sendiri malah berani menanggalkan hijab, membuka aurat untuk jadi konsumsi umum, membiarkan tubuh seksimu dilihat secara sukarela oleh lelaki di jalanan, bahkan shalatmu telah dialihkan oleh sinetron-sinetron murahan, pacaran sebelum nikah menjadi kebiasaan. Ukhti, kami menangis dengan berita itu.

Ya Allah, betapa tragis kenyataan ini. Di saat kami harus berjuang dengan air mata dan beban berat di negara orang, saudara-saudara kami di tanah air justru mengotori kesucian Islam dengan kesenangan dunia yang penuh tipu daya. Mereka menghancurkan Islam dengan memberi teladan buruk pada generasi mendatang.

Ukhti, jangan kau biarkan dirimu tertipu oleh kaum yang menginginkan agama yang agung ini binasa. Engkau telah lemah ukhti, lemah dalam menyaring apa yang diberitakan media. Engkau telah tersesat oleh opini yang hendak membuatmu kehilangan harga diri.

Yaa ukhti, kuharap engkau sudi mencerna akan surat ini, marilah kita siapkan diri kita menjadi mujahidah seperti Khodijah, Asyia, Khaula binti Azwar, Fatimah, Maryam, dan wanita-wanita pilihan yang telah memberi sumbangsih besar akan kemenangan islam.

Kuakhiri surat ini ukhti, dengan kerendahan hati, aku minta maaf andai ada kata yang membuatmu tidak berkenan.

North Point – Hong Kong, Medio Juni 2010

[Yuli Anna Pendamba Surga]

Sembilan Puluh Menit dan Hujan

hujan - driseNamaku Resti. Amat penting bagiku memiliki rasa setia kawan, penghormatan pada yang lebih tua dan menggembirakan sejawat. Walau begitu, aku enggan nongkrong-nongkrong. Tidur di kamar kost lebih bermanfaat daripada nongkrong. Tidur lebih berarti ketimbang membuang-buang karbondioksida dengan sia-sia di tempat tongkrongan dengan sekumpulan orang yang tidak ingin kehilangan gengsi. Demi menghargai sebuah ajakan mulia, kali ini aku memilih ’nongkrong’. Hemm, tepatnya menjadi seorang pendengar budiman. Tongkrongan dalam ceramah sembilan puluh menit.

Detik-detik ini terasa lama, jam dinding itu seperti kura-kura. Lambat, bagai tetesan air keran macet. ”Menit ke enam puluh lima, bersisa dua puluh lima menit lagi” batinku. Aku masih duduk bersila. Setelah aku memutar posisi dudukku ke kanan, ke kiri dan nyaris setengah menjongkok. Aku menahan diri dengan segala rupa agar pertemuan berdurasi seratus delapan puluh menit ini ditutup dengan salam. Jujur, pertemuan ini cukup spektakuler. Hanya sayang, aku memang tipe yang gampang bosan. Rasa bosan itu mampu kujerjaki di lima puluh menit pertama. Selebihnya adalah perjuangan melawan kantuk dan lalat yang hinggap.

Bagiku, pantang rasa kantuk ini ketahuan. Maka jangan heran, jika perilaku menghitung detik, mengusir lalat, memutar bola mata, dan mengangguk-anggukan kepala disebut sebagai metode pengalihan kantuk. Setidaknya bagiku, gadis yang setia menghitung detik.

”Gimana adik-adik, cukup jelas tidak pemahaman islam barusan?” Di menit ke seratus, sang pementor bertanya. Aku menggeleng, bukan karena kantuk, tapi memang tidak ada pertanyaan sejauh ini. Dua orang lainnya masih diam , belum menggelontorkan semacam pertanyaan maupun sanggahan.

Satu, dua, tiga, empat. Aku menghitung jumlah kepala yang hadir di forum ini termasuk kepalaku. Kami orang-orang yang tak saling kenal yang kemudian dikumpulkan. Agenda ini bersifat mingguan berdurasi sembilan puluh menit. Forum dengan formasi setengah lingkaran ini tidak memiliki banyak menu dan aku telah memenuhi syarat. Seorang pemimpin forum yang disebut pementor, setia hadir membawakan tema yang konon sudah dirancang susah payah semalam suntuk.

Untuk forum seperti ini, aku perlu memasang telinga yang mendengar, kemauan dan rasa menghargai kepada penyaji. Dan itulah pula yang membawaku tetap bertahan untuk menghitung detik dan mengusir lalat di menit-menit sisa. Bagiku, menghargai orang lain seumpama momen genting si anak penyu yang berjuang keras menggapai pantai. Jika kelewatan dan tidak lekas mencari sela, situasi saling menghargai itu akan luput. Hubungan pertemanan bisa karam, kekeluargaan bisa mengendur, percintaan akan pupus.

Nalar gampangnya, apakah kau suka jika ketika berbicara lantas ada yang menguap. Itulah yang aku jaga. Kalau bisa, aku tak ingin seorang pun tau aku si pembosan. Aku datang ke forum ini dengan niat kedamaian, sebisa mungkin tidak menodai siapa pun. Termasuk si pementor yang membawa kalam suci dan perkataan suci. Ia tidak dibayar, cukup tuhannya yang membayar. Ia datang bukan karena diundang, justru dialah yang mengundang segenap kami. Aku salut padanya. Rasa salut terbukti mampu membawaku kemari. Walau aku tidak yakin berapa lama lagi energi salut itu bisa membuatku bertahan.

********

Hujan gerimis membasahi tanah gersang. Jika hujan ini berlangsung lebih lama lagi, banjir tidak akan terelekkan. Bumi ini merutuk. Serba salah sudah. Jika hujan, airnya tergenang menjadi garang. Jika kemarau, tanah kerontang dedauan memucat cepat. Gerimis menusuk ini kutahankan. Baru ada dua kepala yang hadir di agenda sembilan puluh menit bersama pementor. Baru ada aku dan dirinya, si pementor yang setia. Dia tidak pernah datang terlambat, meski sehari-harinya selalu jalan kaki.

Sosok itu bernama Meli. Dirinya terpaut dua tahun lebih tua dariku. Keteladanan dan interval diantara kami menambah alasan di dalam diriku untuk tak pupus menghargai akad diantara kami. Meskipun gerimis ini ingin ku hangatkan dalam selimut damai dan tidur siang.

Sepuluh menit waktu berlalu dari yang telah ditentukan. Sejujurnya, aku lebih suka pertemuan atau mentoran kali ini batal saja. Aku tidak nyaman dimentor sendirian. Aku tak sudi menghitung lalat sendirian. Aku ingin melihat tampang dua temanku yang lainnya geser kanan kiri yang membosan. Memang, Kak Meli pernah memberi nasihat agar kami banyak berta’awuz. Karena boleh jadi itu semata godaan syaithan di dada kami. Menggoda agar kami beranjak dari majelis.

”Kak Meli, bagaimana kalau mentoran kali ini diundur saja?” Usulku memberanikan diri.

”Hemm... Sayang adik. Kita kan sudah sengaja datang kesini untuk mengkaji. Hujan tidak menghentikan langkah kita. Sekarang tinggal kita mulai saja, mengapa mundur?” Kata-kata keluar dengan lembutnya. Tapi usahaku untuk penggagalan ini belum sampai finis.

”Nggak usah aja ya, Kak! Plisss... Saya teringat jemuran di kost. Apalagi saya sedang jemur sepatu Kak. Wah, kalau diambil orang kan sayang. Ya ya? “ ungkapku dengan nada memelas. Bukan Resti namanya jika tidak pandai cari alasan.

Maka benarlah. Kak Meli tak sanggup melawan dan hatinya tertawan sendirian.

”Hemm, Ya sudah kalau ada halangan. Minggu depan kita kajian lagi ya. Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”

”Ya” Cepat saja kukatakan. Secepat hujan yang jatuh ke bumi, bebas hambatan.

********

Sudah berlalu waktu seminggu, tapi serasa baru kemarin. Lagi-lagi, seminggu ini hujan turun bergantian dengan awan mendung. Dari balik tirai jendela, air dari atap langit membasahi bumi seumpama tembakan air bertubi-tubi. Dalam suasana yang sejuk rupa begini, kakiku berat melangkah keluar. Hujan reda dan deras bergantian, namun aku terlanjur beringsut di balik selimut. Menghangat dan lamat-lamat terpejam. Ahh..... Sudahlah, lupakan mentoring sejenak. Kemungkinan teman-temanku yang lain pun telah bermuara di pulau yang sama, pulau kapuk nan nyaman yang mengundang mimpi untuk datang. Zzzz... Zzzz... Zzzz....

********

Empat pesan singkat masuk ke inbox telepon selular kesayanganku. HP sejak tadi di-silent, tidurku praktis bebas dari gangguan. Tapi entah, aku merasa ada getar gundah yang menggelitik. Karena seseorang di tempat lain, ternyata sedari tadi menunggu kedatanganku. Hingga mungkin tubuhnya jenuh menunggu disitu. Lelah bersama detik-detik yang menertawai kesendiriannya.

Aslm Wr Wb. Dek, kk udah nunggu nih. Adek datang mentoring kan?

(14.07, SMS pertama Kak Meli)

Hemm... kk masih nunggu loh. Kalau mau datang, silakan. Ok

(14.17, SMS kedua Kak Meli)

Dek, kalau masih ada kesempatan utk datang, boleh aja. Lebih baik terlambat drpd tdk sama sekali.

(14.45, SMS ketiga. Masih dari orang yang sama)

Woi... Dikau datang mentoring? Wah, aku ngga datang ni. Males uy. Tapi kasihan tu K’Meli. Kayanya dia nungguin qta.

(15.05. Kali ini dari orang berbeda. Namanya Dewi, teman sekelompok mentoringku)

Hatiku berkompetisi. Aku merasa telah berbuat kecurangan, disisi lain aku pun mendapat dukungan. Kak Meli, pementorku, sudah bersusah menunggu meski faktanya para pendengarnya belum tergerak untuk ini. Kami mungkin menganggap bahwa mentoring tak berbeda dengan nongkrong. Sah saja bila tidak datang. Selimut hangat teramat menggoda. Sehingga kewajiban dari langit tertunda. Ya, aku berharap ini hanya tunda saja.

********

Hari yang cerah, bunga-bunga bermekaran indah. Tak boleh lagi ada alasan untuk tidak pergi. Ada rindu mendengar wejangan Kak Meli. Ada getir rasa bersalah selama dua minggu ini. Entah perasaan yang merabai, yang pasti aku ingin bertemu dengannya. Memelas maaf. Aku belum seperti Kak Meli yang tidak terhalang hujan untuk menyampaikan risalah. Aku bahkan belum bisa menyumbangkan waktuku sepenuhnya meski hanya untuk mendengar. Tapi kali ini aku janji, aku tak ingin menghitung detik lagi.

Tik... Tik... Tik...

Detik terus melaju. Namun belum ada seorang pun yang datang seperti biasa. Tidak Kak Meli, tidak yang lainnya. Beginikah rasa sesak menunggu sendirian? Hatiku tiba-tiba haru, membayangkan Kak Meli yang kemarin menunggu seorang diri di tengah deru hujan.

Ahh.... Dan kini aku baru sadar bahwa aku bukan hanya si pembosan, tp juga tidak sabaran. Aku mencari-cari di phonebook digit nomor seluler Kak Meli. Ya! Tuuttt... Tuuutt... Nomor sibuk. Nihil. Cepat jemariku memencet nomor lain, digit nomor Dewi rekan sekelompokku, terpampang di layar. Tak sabar, ingin mendengar sahutannya.

”Halo..” terdengar sahutan di seberang

”Halo.. Wi, Aku sendirian nih. Dikau dimana? Ngga mentoring? Jangan malas gitu dong” Kataku bertubi, menggurui.

”Mentoring? Resti.. Hemm... Belum dapat kabar ya?”

”Hemm.. Kabar apaan?”

Ada jeda. Nafas Dewi terdengar menghempas.

”Kak Meli sakit seminggu ini. Dia udah ngga di dunia ini lagi. Jenazahnya dikubur kemarin”

Seketika mulutku terkunci. Langit hidupku tenggelam ke inti bumi. Tak kuasa, air mata jatuh seketika.

”Res.. sorry banget, kemarin aku lupa kasi kabar. Maaf yak” Dewi masih bersuara. Sedangkan aku susah payah untuk membalas ucapannya.

”Tak apa” Aku berharap Dewi mendengar sengau suaraku yang keluar dengan penuh perjuangan. Telepon itu kusudahi. Dengan sekelumit kecamuk yang menggigiti hati ini.

********

Batu nisan itu tak dapat bercakap-cakap. Tanah masih basah dan harum kematian. Bunga tanjung belum mengering sempurna. Aku tidak memperdulikan titik-titik air dari langit yang mulai rintik. Rasa sesal seringkali tiada guna. ”Karena kita tak tahu kematian itu kapan datang. Maka manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya”. Kata-kata itu masih melekat di ingatan. Ya, kata-kata itu terbukti nyata. Di luar dugaanku, tanpa pertanda sedikit pun Kak Meli pergi mendahului. Mungkin ketika ia meregang, aku masih sempat bermalas-malas seolah masih lama masa itu tiba.

”Kak Mel.... Aku tidak akan malas-malas lagi. Tidak peduli terik maupun hujan. Meskipun aku harus membosan dalam sembilan puluh menit bahkan sembilan puluh tahun sekalipun. Aku takkan lagi menyiakan kesempatan. Bukan demi siapa-siapa. Demi sisa hidup yang tak boleh sia-sia”

Hujan lebat membasahi. Airnya mengalir di pipi. Bercampur dengan air mataku sendiri

Oleh: AlgaBiru (Pengen jadi superman!)

-27 Desember 2009-

Jika kau tak dapat menjadi kapal pesiar jadilah rakit di tengah rawa yang buram dan penolong penyeberang yang kesepian Jika kau tak mampu menjadi jalan raya jadilah jalan setapak menuju mata air Seandainya diriku bukanlah matahari semoga aku menjadi bintang-bintang di kegelapan malam


suber: drise-online.com

Adakah Aku Setegar Bunda Hajar?

Bulan Juni...Sebuah bulan yang penuh kenangan indah dan tetesan air mata bahagia. Pun, bulan Juni adalah bulan penuh linangan air mata duka. Setahun yang lalu, 14 Juni 2009, Allah memanggil kekasihku menghadap-Nya.

Ikatan suci pernikahan yang menyatukan kami, membuat hari-hari indah laksana alam surgawi ternyata begitu singkat, hanya enam tahun lebih tiga belas hari.

Kenangan-kenangan indah bersamanya terpatri kuat dalam hati. Tiada pernah terlupa tetesan air matanya saat melepas masa lajang dan ketika menemaniku berjuang melahirkan anak-anak.

Akan selalu kusimpan rapi dalam memoriku, jasa-jasa beliau menemani hari-hari hingga detik-detik akhir hayat Ibu, wanita yang melahirkan dan membesarkanku. Ketika itu, beliau pula yang menghibur dan menguatkanku.

Kini tiada lagi belahan jiwa yang menemani hari-hariku. Tiada lagi sahabat sejati, tempat aku mencurahkan perasaan dan berbagi suka duka. Tiada lagi sosok ayah berwibawa yang bersama-sama mengasuh dan membesarkan buah hati kami.

Tiada lagi laki-laki pencari nafkah untuk keluarga. Sungguh ... aku benar-benar kehilangannya, kehilangan separuh jiwaku. Kehilangan yang teramat sangat, hingga muka ini kerap bercadar air mata.

Kusadari dalam hidup ini impian tak selamanya bersesuaian dengan kenyataan. Kala perih dan pilu menyelimuti sanubari, selalu terselip nasihat untuk diri. Kuingatkan diriku bahwa seharusnya aku tersenyum bahagia karena Allah telah memilih kekasih hatiku untuk segera menemui-Nya.

Kuyakin Ia Yang Mahasegalanya akan membahagiakan belahan jiwaku di alam sana. Pun, kuyakin Yang Mahakuasa tak akan membiarkanku bergulat dengan beban kehidupan ini seorang diri. Dengan caranya yang luar biasa -yang mungkin tidak bisa dinalar dengan logika manusia- akan selalu ada uluran tangan-Nya untuk kami.

Aku selalu terinspirasi oleh kisah ketegaran dan ketawakalan Bunda Hajar. Suaminya, Nabi Ibrahim meninggalkan beliau dan anak semata wayangnya Ismail di suatu padang tandus yang bahkan tidak ada rumput tumbuh.

Kala itu Hajar bertanya, ”Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu untuk melakukan ini?” Ketika kekasih Allah itu membenarkan pertanyaannya, maka Hajar berkata, ”Kalau Allah yang memerintahkan demikian, niscaya Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Sebuah kalimat yang menunjukkan ketegaran, kekuatan iman, dan ketawakalan jiwa yang luar biasa.

Ibrahim pun telah pergi dari sisi Hajar. Setelah perbekalannya hampir habis, Hajar berlari menuju Bukit Shafa, berharap bertemu dengan suatu kafilah yang lewat untuk dimintai pertolongan. Ketika tak ditemui seorangpun, beliau turun untuk menuju Bukit Marwah.

Begitulah, beliau dengan panik, gelisah, dan khawatir, mondar-mandir hingga tujuh kali karena Ismail terus menerus menangis kehausan. Demikian juga dengan Hajar, beliau pun kehausan hingga tak keluar air susunya.

Allah Maha Menepati Janji, Ia memberikan rezeki pada hamba-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka. Di tengah kekalutan, muncullah mata air yang letaknya dekat dengan Ismail. Hajar bergegas menuju mata air tersebut dengan penuh rasa syukur.

Tak berapa lama kemudian muncullah suatu kafilah yang meminta izin kepada Hajar untuk mengambil air Zam-zam dan bermaksud untuk tinggal di lembah itu. Sejak saat itu, Hajar dan puteranya tak sendirian lagi.

Kita memang harus banyak belajar menjadi wanita tegar, setegar Ibunda Hajar. Kuyakin, Allah tak akan meninggalkan kita. Ia selalu mendengarkan isak tangis, keluh kesah dan rintihan kita. Ia juga akan mengabulkan segala pinta kita, yang terbaik bagi kita.

Maka kini kukembali bersimpuh di hadapan-Nya, kuserahkan jiwa dan raga diiringi lantunan doa.

Rabbi...
Datang...
Datanglah Engkau...
Rengkuhlah aku...
Dalam belaian cinta-Mu
Dalam pelukan kasih-Mu

Rabbi...
Datang…
Datanglah Engkau…
Dengan tangan -Mu
Dengan keagungan-Mu
Mengangkat beban di pundakku

Rabbi…
Mahakasih-Mu
Mahakuasa-Mu
Menyuburkan samudera asa di jiwaku

***
Baiti Jannatii, 13 Juni 2010
(Ditulis sebagai curahan hati dan nasihat untuk diri)
http://nurwati-uf.blogspot.com

BELOT

aku mulai ragu
dengan perjuangan itu,
Tah apa
kemudian mereka juangkan
KOMPROMI...
hanya kompromi di pupuk suburkan
Bagai antek di kemudian.
Tak baca selamikah firman tuhan???
sungguh...
kurasa keterlaluan.

moncong-moncong itu pun perlahan berubah halu
Berubah menikam perlahan
menghunus tajamnya kebencian sang kufar
Media penodaan umat selanjutnya.

kalau terus begitu,
ku tak tau,
berapa umurku.
akankah islam ada hingga akhir hayatku???
islam, oh islam...
kelanjutanmu tah bagaimana.
Rabb...
Bukan ku ragukan genggaman-Mu
Betapa senandung firman-Mu ku yakini
"Manusia berubah karna merubah"
Namun, kami lemah tak berdaya Rabb!
maka kuasa-Mu hujamkan jiwa
kuatkan raga tegarkan iman.
segera angkatlah sagara pebelotan,
luruskan hati ini,
luruskan jalan ini,
duhai sang penguasa hati!!!
_ImAjI_
untukmu saudaraku
yang mulai berbelot perlahan

Surat Untuk Saudaruku Di Palestina, nan jauh disana


Bismillahirrahmaanirrahiim…
Teruntuk Sahabatku dengan Tatapan Kosongnya…

Wahai sahabat…Aku tak pernah tahu siapa namamu. Jangankan menjabat erat tanganmu bertemu pun kita tak pernah. Aku mengenalmu hanya lewat layar kaca dan gambaran di surat kabar terbitan negeriku. Tampak jelas air matamu berlinang ditambah lagi tatapan kosong penuh keputusasaan. Engkau pun sering singgah dalam mimpi panjangku.namun mengapa engkau masih menghiasi mimpi ku dengan raut wajah sedihmu? Sahabatku…sudah tak mampukah engkau tersenyum walau sedetik?
Aku ingin bertanya “Apa kabarmu sahabat?” namun tak usalah aku layangkan pertanyaan itu. Karena tanpa engkau jawab, aku tahu apa jawabmu. Tangisan, jeritan, dan murungnya wajahmu cukup untuk membuatku turut larut dalam penderitaanmu.

Tahukah engkau tersayat perih rasanya hati ini ketika melihat hamparan puing-puing bangunan berserakan. Aku yakin salah satu diantaranya adalah puing reruntuhan rumah megahmu dulu. Terasa ingin aku menjerit ketika melihat jasad bergelimpangan terbungkus kain kafan. Aku yakin sanak saudaramu ada diantaranya, atau mungkin satu dari mereka adalah dirimu wahai sahabatku… Oh tidak…ya Allah…!

Sahabat…mungkin sepucuk surat ini tak mampu hapuskan air matamu. Namun hanya ini yang bisa aku lakukan. Walau kita terpisah dengan luasnya samudra dan panjangnya bentangan daratan, yakinlah air matamu adalah air mataku, duka hatimu adalah perih sanubariku. Karena aku dan kau adalah saudara yang saling menyayangi dalam kasih Ilahi.

Ketika mendengar Palestina, tanah kelahiranmu sekaligus tempatmu mengarungi lika-liku kehidupan, dibombardir oleh zionis Israel, entah sudah berapa kali aku merogok lembaran rupiah dari saku celanaku. Sahabatku… jumlahnya memang tak seberapa jika dibandingkan kepedihan yang Engkau rasakan. Maaf sahabat, hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu.

Sebenarnya aku begitu ingin berkunjung ke negerimu. Bahkan jika diizinkan aku ingin menemani hari-hari perjuanganmu dibalik deru “intifadah”. Salut aku melihat anak-anak Palestina tak gentar mempertahankan kehormatan diri dan negeri, walau hanya dengan segenggam batu. Meskipun moncong senjata panser berlapis baja telah ada didepan mata dan siap ditembakkan, mereka seolah tak pernah gentar. Baginya hanya ada dua pilihan hidup mulia atau mati syahid. Sungguh semangat seorang pejuang sejati.

Aku iri, anak-anak sekecil mereka telah mampu berjuang bahkan tak takut mati demi membela kehormatan diri dan keagungan agama Ilahi. Sementara aku hanya seonggok manusia penakut yang belum mampu memberikan karya terbaik untuk kemuliaan agama Allah. Aku malu sahabatku…

Mungkin inilah yang membuat tentara Israel tak mampu mengalahkan kalian. Padahal kalian bukanlah tentara profesional yang memiliki senjata lengkap. Senjata kalian hanyalah batu dan bom Molotov kecil. Namun ternyata itu semua telah membuat mereka gentar. Sahabatku tahukah engkau, ternyata banyak tentara Amerika yang mengurungkan niatnya untuk bertugas didaerahmu karena mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang begitu cinta akan kematian. Kecintaan pada kematian ini terus memumcak karena kau dan teman-temanmu yakin bahwa dibalik kematian itu ada surga Allah menanti. Jadi tak ada kata mundur kecuali terus maju berjuang hingga tetes darah pennghabisan, sembari meneriakan “Haarisan aminan lil Islam” Saya siap mati dan berjuang demi islam.

Walaupun aku tak ada di dekatmu sahabat, ketika langit malam Palestina yang kelam gelap berubah menjadi terang benderang akibat bunga api rudal Israel, yakinlah aku pun disini merasakan dentuman ketakutan itu. Panasnya bom fospor putih yang mampu membakar hingga tulangmu pun dapat aku rasakan. Walau kulit ini tak melepuh, walau badan ini tak berdarah, namun hati ini begitu sakit dan marah ketika melihat kau diperlakukan tidak adil.

Sahabat….kepedihan dan rasa ini kian memuncak tatkala mereka telah membantai lebih kurang 1.300 Muslim di Gaza pada tahun 2007, mungkin diantara mereka adalah saudaramu bahkan dirimu. Sebaliknya sahabat… Dunia seolah bungkam seribu bahasa, tatkala moncong rudal dan roket milik zinois ditembakan ke negerimu, dunia tuli tatkala jeritan anak kecil meminta tolong, mereka buta tatkala melihat darah berlumuran di sepanjang jalan, ironis pimpinan sang “polisi dunia” negara paman syam tetap mendukung tindakan kejam Zionis Israel itu.

Ketahuilah sahabat… disini aku dan sahabat-sahabatku kan selalu mendukungmu. Kan Kuteriakan kepada para penguasa di negeriku. WAHAI PENGUASA… kerahkan pasukan selamatkan palestina !!!. Mungkin itulah sahabat yang bisa ku lakukan untuk mendukung “intifadohmu”.

Sahabat tahukah kamu….dipertengahan bulan ini akan datang pemimpin negara paman syam ke negeriku. Aku tahu negera zionis sampai saat ini membunuhi sandaramu dengan dukungan negara adidya tersebut. Oleh karenanya sahabat…sebagai rasa solidaritasku terhadap ikhwah dipalestiana, Aku akan kerahakan sahabat-sahabat yang ada dinegeriku untuk menolak kedatangan presiden negara dan pelindung negara penjajah.

Sahabat… aku berjanji Demi Al Liwa dan Ar Rayah, Sampaikan kapanpun aku takan pernah ridho “bangsa kera” itu meduduki negerimu. Karena negerimu adalah negeriku dan negeriku adalah negerimu, Saudaramu adalah saudaraku dan saudaraku adalah saudaramu. Oleh karena itu sahabat, penderitaanmu adalah bagian dari penderitaanku. ide nasionalisme telah membuat kita terbatas ruang dan waktu.

Sahabat, masih banyak duka hatiku yang ingin ku ceritakan padamu. Namun waktu terus merambat menuju malam yang kian kelam seraya menyambut fajar yang sebentar lagi kan tiba. Aku harus mengakhiri ini semua, karena aku akan beranjak merengkuh secawan air untuk berwudhu dan bersegera sujud bersimpuh di hadapan Allah. Aku yakin disetiap sepertiga malam terakhir ini, Allah menurunkan malaikat-Nya dan Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bermohon pada-Nya.

Yakinlah sahabat, aku selalu menghadirkan bayangmu dalam setiap munajat malamku. Semoga Allah segera mengeluarkanmu, keluargamu, dan saudara-saudara kita yang lain dari kesempitan hidup ini. Itulah asa yang selau ada dalam setiap asa doaku.

Pesanku yang terakhir, teruslah berjuang sahabatku, walau disela-sela perjuanganmu engkau harus mengeluh, bahkan sesekali menangis. Sahabat, menangislah jika memang tangisan itu mampu meringankan bebanmu. Namun ingat jika tangisan itu telah usai, lekas hapus air matamu dan kembali bergulat dengan debu-debu perjuangan di tanah suci Palestina.

Aku disini kan selalu menemanimu dengan doa dan asa, Allah telah menjadikan aku dan kau bersaudara. Jika Allah tak memberikan ku kesempatan untuk menjabat erat tanganmu di dunia, maka sempurnakanlah asa kita untuk dipertemukan oleh Allah di depan gerbang surga nantinya, walaupun aku tak pernah tahu siapa namamu…

Sebelum melipat surat ini wahai sahabat, meskipun hati begitu perih, namun tersenyumlah walau sedetik. Karena kami disini kan terus berjuangan demi tegaknya agama Allah dalam naungan khilafah. Khilfahalah yang akan menorehkan senyum abadi disudut bibirmu dan juga secerca harap di sudut keningku…
Dari sahabatmu di bumi khatulistiwa, yang selau melihat tatapan kosongmu…

sumber: imamajib.multiply.com

jadilah pejuang CINTA..

CINTA itu sangat indah..
CINTA itu Anugrah..
Anugrah terbesar dlm hidup manusia ..

CINTA itu dasyat..
CINTA itu luar biasa..

Penakut bisa jadi berani,.
orang bodoh jadi cerdas.,
karna CINTA itu cahaya..

gelisah kan jadi tenang,.
hatipun jadi nyaman..
semua karna CINTA...

jika orang dilanda CINTA, ia akan lupa apapun..
lupa waktu,.
lupa lelah,.
lupa susah,.
dia terus memikirkan kapan bisa bersua...
CINTA memang aneh..
dan orang bisa melakukan apapun,.
mengorbankan apapun..
karna CINTA.

nampaknya semua orang harus punya CINTA..
menjadi pejuang CINTA..
mnjadi pencari CINTA..
Berusaha keras mengeluarkan seluruh daya upaya tuk mndapat CINTA...
_mendapatkan CINTA ALLAH_

CINTA ALLAH only..

bukanlah itu tujuan kita..
tujuan manusia ..
mendapat,
meraih CINTA ALLAH...
cukuplah CINTA ALLAH saja bg Qt...

ya ALLAH aq ingin mencintaimu melebihi dari mencintai apapun di dunia ini..bahkan melebihi CINTAku pd diriku sndiri...
dan hamba ingn mendapat CINTA MU ya Rabb..

oleh: Abdulloh Irwan

untuk mu pejuang

ketika aku berjalan sendiri di atas jalan yang ku pijak ini,
kurasa ada sebuah kecewa

merintih rasa, sesakan jiwa
meski kadang kecewa sering mendatang
tapi bukankah ini pilihan...
berusaha menjadi manusia yg ga peduli adalah susah,
begitu pun mencari jati yang sempurna...
sebaiknya aku tetap tegar berdiri
walau takjarang badai menanti
Sabar, sebuah kunci...
tawakal, adalah nurani,
lekat kan dalam diri..
hingga waktu itu kan datang,
kemengangan nan cahaya gemerlap...
mereka akan tersadarkan,
ya mereka akan tersadarkan,
dari keterpurukan dalam lelap buayan jaman
sabarlah pejuang....

sepi

pagi masih terasa dingin, diluar hanya gemerisik angin samar menerpa pepohonan, merambat dari satu ranting keranting lain, lalu hinggap di genting dan berusaha menerobos celah-celah, seakan mencari kehangatan, sehangat Radil yang begitu menikmati tidur dalam dekapan selimut tebal,kiriman ayahnya dari belanda, namun angin tetap memaksa tuk ikut serta dalam kehangatan, telinga radil yang begitu peka mendengar suatu bunyi dari sampingnya, suatu nada yang begitu menghentak, bersyair syarat akan makna, tangannya meraba-raba, mencari benda asal dari bunyi yang menggangunya, “halo…. Siapa nih…” suara padil terdengar parau dan malas, “halo assalamualaikum brad…. Males banget sih, blon bangun ye? ni gua Ardi”, “oh… lo walaikumsalam, jam berapa sih?”, “jam 3 pagi”, “yah masih pagi donk, ganggu aja sih!” padil aga kesal , “yah lo… jangan mentang-mentang idup jauh dari gua lo jadi kayak dulu lagi”, “yah, yah, gua bangun...” padil duduk sejenak dan menyingkirkan selimutnya, bibirnya tersenyum, “heh… kapan lo pulang ke sini, gua kangen ni, pingin liat tampang ngambek lo!”, “yah… gua ngerti, tampang cakep gua kan maksud lo!”, “heuh…” padil mendengus kesal, “hihih,,,tenang ja brad! Gua tinggal nunggu waktu wisuda ja ko!”, “mang kapan wisudanya?”, “minggu depan!, ya dah cepet tu bersihin iler lo!jangan lupa solat yang khusu, jangan mikirin gua mulu”, “huh… dasar!!!” percakapan berakhir, padil segera mengambil air dan membasuhkanya ke muka, sontak dingin menjalar, padil merinding menikmati, “Rrrr… seger…”.
Tinggalah ia seorang diri dalam suatu gedung yang megah, hanya bi inem, perempuan separuh baya yang menemaninya, ayahnya masih di belanda sanah, ibunya? Ibunya memang mungkin masih ada tapi Radil tak pernah tau dimana, tampangnya pun tak pernah ia kenal, Ardi kaknya masih dalam perjuangn mencari “tau” di negri tetangga, yah Malaysia. “nape sih lo pilih Malaysia? Kyak ga da lagi sekolah ja, lo ga tau yah mereka sering berulah?” Tanya radil satu waktu setelah joging, “nah ini, ini yang dinamakan korban, korban media korban pendidikan, dan korban pergaulan. gini adiku tersayang, kenapa gua pilih Malaysia, karna yang da di benak gua mereka juga sama saudara kita, tuhan mereka, nabi mereka, kitab yang jadi panduan hidupnya, semua sama, mereka muslim gitu juga gua, lagian kalo pun gua pilih amrik no problem kan? Yang gua cari bukan orang nya, tapi ilmunya!” cakap Ardi berbusa-busa, “kaka ku tercinta, tapi meski kita sesama muslim, kalo mereka terus bikin ulah, kan ngeselin juga, pa lagi kita kan beda Negara dengan mereka”, Ardi sedikit menunduk “ini lah Rad, akibat dari di pecahnya muslim” suaranya terdengar begitu ketir, “ mereka lebih cinta dengan yang disebut tanah air sendiri, ketimbang saudaranya sendiri” lanjut Ardi, sebutir air hangat menetes juga dari pelupuk mata yang berusaha di bendungnya, seketika hening tercipta di ruang tamu itu. Ardi masih tertunduk merasakan sakitnya keadaan, Radil hanya terdiam semenjak kakanya meneteskan air mata, ada sedikit rasa bersalah dalam dadanya, ia pandangi kaka yang tepat ada di hadapanya itu, ingin ia minta maaf dan menanyakan kenapa kakaknya sampai menangis, tapi rasa ego mengalahkan niatnya, disinilah ia merasakan benarnya perkataan ego laki-laki tu mengalahkan segalanya. Sejenak padil mengingat lagi percakapannya tadi, ia meresapi kata demi kata, “apa hanya karna kata perbedaan Negara tadi kaka jadi menangis?”, kedatangan bi inem dengan dua gelas jus jeruknya, membuyarkan keheningan.
Dalam sepi malam, padil sungkurkan kepalanya di hadapan sang robb, keheningan seakan merajut rasa salah dalam dirinya, air matanya berderai dalam sujud, dan memorinya seakan menggelar masa lalunya, “robb maafkan lah segala dosaku, tegarkan aku kala kesendirian, tunjukanlah selalu jalan yang kau ridhai, anugrahkanlah sahabat sejati dalam hidup ku, sahabat yang kan ingatkanku waktu lupa, menyemangatiku kala semangat menyurut, menghiburku waktu duka mendera, dan kuatkan lah aku dalam ikatan kebenaran ini” doanya merangkai sunyi, sunyi yang begitu menentramkan hati, sunyi yang kan mampu menyejukan jiwa. 1/3 malam tuhan mencari.

by: ImAjI
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Watch videos at Vodpod and more of my videos

Followers

Foto Saya
bilal mubaraqi
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
a sore loser | full time dreamer | part time achiever | self centered servant | educator | big brother of insolent brothers | arts lover | half ass photographer
Lihat profil lengkapku